Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng

Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng - Banyak Sekali cerita dongeng yang saya sukai dan selalu ingat, salah satunya cerita dongeng yang satu ini, kisahnya hampir sama dengan cerita dongeng lainya namun pada cerita ini alur cerita dan tokohnya sedikit berbeda namun sangat menarik untuk dibaca, berikut ceritanya:
Di sebuah rumah besar yang terletak di tepi pantai, hiduplah seorang bangsawan tua yang kaya raya, yang tidak memiliki istri dan anak yang masih hidup, kecuali seorang cucu perempuan yang wajahnya tidak pernah dilihatnya seumur hidup. Bangsawan Tua tersebut sangat membenci cucu perempuannya karena menganggap si Cucu Perempuan inilah yang menyebabkan kematian anak perempuan yang sangat disayangi saat melahirkan. Saat perawat akan memperlihatkan sang cucu yang masih bayi, Bangsawan Tua tersebut menolak bahkan berkata dan bersumpah, apapun yang terjadi pada cucunya, hidup ataupun mati, dia tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya tersebut.
Lalu dia membalikkan badan, duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah laut, menangisi anak perempuannya yang telah meninggal, hingga rambut dan janggutnya yang putih tumbuh melebihi bahu serta mengelilingi tempat duduknya hingga akhirnya menyentuh lantai, dan air matanya yang menetes turun lewat jendela, membentuk alur pada batu di bawahnya dan akhirnya menjadi sungai kecil yang menuju ke laut. Sementara itu, cucu perempuannya tumbuh tanpa ada yang memberikan perhatian, atau memberinya pakaian yang layak, hanya perawat tuanyalah yang berbaik-hati, dimana saat tidak terlihat orang lain, kadang memberikan dia sedikit makanan dari dapur, atau pakaian yang penuh dengan tambalan dan terbuat dari kain karung; sementara pelayan-pelayan di rumah itu sering mengusirnya keluar dengan pukulan ataupun ejekan, memanggil dia dengan sebutan si "Compang-camping", menunjuk-nunjuk kaki dan bahunya yang telanjang, hingga akhirnya sang Cucu berlari keluar, menangis, dan bersembunyi di semak-semak.
Akhirnya sang Cucu beranjak menjadi dewasa dengan makanan dan pakaian yang seadanya, menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan hanya di temani oleh seorang penggembala angsa yang pincang. Si Gembala Angsa ini adalah orang yang sangat periang, di saat sang Cucu kelaparan, kedinginan, atau keletihan, si Gembala tersebut akan memainkan suling kecilnya sehingga sang Cucu melupakan semua masalahnya dan akhirnya ikut menari bersama sekumpulan angsa.
Pada suatu hari, orang-orang ramai membicarakan tentang Raja yang akan melakukan perjalanan melalui tanah dan kota mereka, dan untuk itu, Raja akan membuat perjamuan dan pesta dansa yang besar untuk para bangsawan dari negeri tersebut, dan Pangeran, putra satu-satunya, akan memilih seorang istri dari kalangan bangsawan tersebut. Saat waktunya tiba, salah satu undangan kerajaan untuk menghadiri pesta dansa sampai ke rumah sang Bangsawan Tua. Seorang pelayan mengantarkan undangan tersebut ke Bangsawan Tua yang masih duduk di dekat jendela, terlilit oleh rambut putihnya yang panjang dan masih meneteskan airmata ke sungai kecil di bawah jendela.
Saat mendengar perintah sang Raja dalam undangan, dia mengeringkan air mata dan menyuruh pelayan untuk memotong rambutnya yang panjang. Kemudian dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan baju dan perhiasan yang mewah yang akan dipakainya; lalu dia juga memerintahkan mereka untuk memberi pelana yang berhiaskan emas dan sutra pada kuda putihnya, karena sang Bangsawan Tua akan mengendarai kuda bersama dengan sang Raja; Namun dia sama sekali lupa bahwa dia memiliki seorang cucu perempuan yang bisa dibawa ke pesta dansa tersebut.
Sementara itu si Compang-camping duduk di lantai dapur sambil menangis saat mengetahui bahwa dirinya tidak dibawa untuk menghadiri pesta dansa. Dan ketika perawat tua mendengarnya menangis, dia lalu menghadap ke Bangsawan Tua, memohon agar bangsawan tersebut membawa cucu perempuannya menghadiri pesta dansa sang Raja.
Tetapi bangsawan tua itu cuma mengernyitkan dahi dan menyuruhnya diam; sementara pelayan yang lain tertawa dan berkata sinis, "Si Compang-camping cukup senang dengan pakaian tambalannya dan bermain bersama si Gembala Angsa! Biarkan saja dia, karena dia sudah pantas dengan keadaannya yang sekarang."
Kedua dan ketiga kalinya, perawat tua tersebut terus memohon agar sang Cucu dapat ikut ke pesta, tetapi jawaban yang didapatkan adalah tatapan marah dan kata-kata yang kasar, hingga akhirnya dia dikeluarkan dari ruangan oleh pelayan-pelayan yang mengolok-oloknya dengan kata-kata kasar disertai pukulan.
Sang perawat tua menangis sedih karena tidak berhasil membujuk tuannya, berusaha untuk mencari si Compang-camping; tetapi gadis tersebut telah diusir keluar oleh tukang masak di dapur, dan mencari temannya si Gembala angsa untuk menceritakan kepedihannya karena tidak dapat hadir di pesta sang Raja.
Saat Gembala Angsa mendengarkan kisahnya, dia lalu menghiburnya dan mengajukan usulan agar mereka pergi bersama menuju kota untuk melihat Raja dan segala hal yang indah-indah; dan ketika si Compang-Camping terlihat sedih saat memandang bajunya yang terbuat dari tambalan-tambalan kain karung serta kakinya yang tidak memiliki alas kaki, sang Gembala memainkan satu-dua lagu dengan sulingnya hingga suasana berubah ceria, dan si Compang-Camping melupakan semua derita dan air matanya, dan tanpa disadarinya, sang Gembala telah menarik tangannya untuk menari sepanjang jalan menuju kota.
"Yang lumpuh pun masih bisa menari apabila mau," ujar si Gembala Angsa sembari meniup sulingnya.
Sebelum mereka berjalan terlalu jauh, seorang pemuda yang tampan, berpakaian mewah, berkendara kuda, berhenti untuk menanyakan arah kastil di mana sang Raja menginap, dan ketika dia tahu bahwa arah yang mereka tuju adalah sama, sang Pemuda turun dari kudanya dan berjalan bersama mereka.
Cerita dongeng hanya di >>>  ceritacerita-pendek.blogspot.com
"Kamu sepertinya orang yang menyenangkan dan enak dijadikan teman," katanya, 
"Teman yang baik, pastinya," kata sang Gembala lalu meniup sulingnya dengan nada yang aneh.
Nada sulingnya sangat aneh, dan membuat sang Pemuda menatap dan menatap terus ke arah si Compang-Camping hingga dia tidak memperhatikan lagi baju yang penuh tambalan yang tengah dikenakan oleh si Compang-Camping. Hanya wajah cantik si Compang-Camping yang terlihat menarik perhatian sang Pemuda.
Lalu sang Pemuda berkata, "Kamu adalah wanita tercantik di dunia, Maukah engkau menjadi pendamping hidup saya?"
Saat itu sang Gembala Angsa tersenyum sendiri dan memainkan lagu yang sangat merdu.
Tetapi si Compang-Camping hanya tertawa. "Anda salah, sepertinya saya tidak pantas untuk jadi pendamping Anda," katanya; "Anda akan merasa malu demikian juga dengan saya, apabila Anda mengangkat gadis seperti saya menjadi istri Anda! Pergi dan pinanglah salah seorang dari gadis bangsawan yang Anda lihat nantinya di pesta dangsa Raja, dan tidak usah memperhatikan gadis miskin seperti saya."
Semakin sang gadis menolak, semakin merdu lagu yang dimainkan oleh si Gembala Angsa, dan semakin dalam jugalah sang Pemuda jatuh cinta kepada si Compang-Camping; hingga akhirnya sang Pemuda memohon agar si Compang-Camping berkenan hadir di pesta dansa Raja pada jam 12 malam nanti, bersama dengan Gembala Angsa dan angsa-angsanya, seadanya seperti sekarang, dengan pakaiannya yang penuh tambalan dan tanpa alas kaki, sebab sang Pemuda akan membuktikan bahwa dia akan tetap sudi berdansa dengannya di depan sang Raja dan seluruh bangsawan, sembari memperkenalkan bahwa dia adalah calon pengantinnya.
Saat si Compang-Camping akan menolak kembali, sang Gembala berkata, "Terimalah rezekimu yang datang saat ini."
Saat malam tiba, halaman kastil dipenuhi dengan cahaya dan suara musik, dimana para bangsawan menari di depan Raja. Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam, si Compang-Camping dan si Gembala Angsa, diikuti oleh kumpulan angsa yang riuh, memasuki pintu besar dan berjalan lurus langsung ke lantai dansa, sementara di samping kiri dan kanan, para bangsawan berbisik-bisik sambil tertawa meledek, dan Raja yang duduk di takhta, menatap dengan tatapan heran dengan pemandangan yang ganjil ini.
Saat mereka tiba di depan takhta, sang Pemuda yang ternyata adalah Pangeran, bangkit dari kursinya di samping Raja, dan menyambut si Compang-Camping. Memegang tangannya, lalu berbalik menghadap raja.
"Ayahanda!" ujarnya. "Saya telah menentukan pilihan, dan gadis di samping saya inilah pengantin saya, wanita tercantik dan termanis yang pernah saya temui di dunia ini!"
Sebelum dia selesai berkata, sang Gembala Angsa meniupkan sulingnya dan memainkan beberapa lagi yang terdengar seperti kicauan burung di tengah hutan; pada saat itu juga, Pakaian si Compang-Camping berubah menjadi gaun dan jubah yang indah dan penuh dengan perhiasan berkilau. Tak hanya itu, sebuah mahkota terpasang di atas rambutnya yang berwarna emas, dan sekumpulan angsa di belakangnya menjelma dayang-dayang yang memegang gaun indahnya yang panjang hingga ke belakang.
Saat sang Raja bangkit untuk menyambut, terompet di bunyikan untuk menghormati sang Putri, Seketika itu pula orang-orang yang berada di jalan saling bercerita. "Ah, sekarang Pangeran telah mendapatkan gadis tercantik di seluruh negeri sebagai istrinya!"
Semenjak saat itu, sang Gembala Angsa tidak pernah terlihat lagi, dan tidak ada yang pernah tahu kemana sang Gembala Angsa pergi; sementara itu, bangsawan tua terpaksa pulang ke rumahnya karena tidak bisa menetap lebih lama lagi di kastil akibat sumpahnya untuk tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya.
Sekarang si Bangsawan Tua itu masih duduk di dekat jendela, menangis dengan teramat sedih. Rambut putihnya tumbuh terurai hingga ke lantai, dan airmatanya mengalir seperti sungai yang menuju ke laut.
 Baca cerita dongeng lainya yang ada di blog cerita pendek ini.

Putri Yang Menyamar Menjadi Wanita Pemburu - Cerita Dongeng

Putri Yang Menyamar Menjadi Wanita Pemburu - Cerita Dongeng - Cerita menarik yang wajib anda baca jika anda benar-benar menyukai cerita dongeng, berkisah tentang upaya seorang putri kerajaan yang menginginkan kekasihnya kembali. selamat membaca kawan:
Pada zaman dulu, ada seorang putra raja yang bertunangan dengan seorang putri yang sangat dia cintai. Suatu hari, saat mereka duduk berduaan, sang Putra Raja menerima kabar bahwa ayahnya sedang terbaring sakit. Untuk itulah dia bergegas pulang ke istananya untuk  menjenguk ayahnya sebelum ajalnya tiba.
Jadi sang Putra Raja itu berkata kepada kekasihnya, "Aku harus pergi dan meninggalkan kamu, tetapi ambillah cincin ini dan pakailah untuk mengenangku, dan ketika aku menjadi raja, aku akan kembali ke sini dan menjemputmu ke istanaku."
Lalu dia berkuda untuk pulang ke istana kerajaannya, dan ketika dia sampai, didapatinya ayahnya sedang yang sakit keras dan sekarat hampir mendekati ajal.
Raja lalu berkata kepadanya, "Anakku tersayang, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku meninggal. Berjanjilah kepadaku, aku mohon, bahwa kamu akan menikah sesuai dengan keinginanku," dan dia kemudian menyebutkan nama seorang putri dari kerajaan tetangga yang sangat menginginkan putra raja tersebut menjadi istrinya.
Karena sangat sedih, sang Pangeran itu tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali soal kesehatan ayahnya yang semakin memburuk. Lalu dia pun menyanggupi permintaan ayahnya. "Ya, ya, Ayah. Apapun yang Ayah inginkan dari aku, akan aku laksanakan."
Tak lama setelah mendengar kesanggupan putranya, sang Raja pun menutup matanya dan meninggal dengan tenang. Tidak lama kemudian, setelah masa berkabung telah selesai dan  sang Pangeran dilantik sebagai raja, maka dia merasa harus memenuhi janji yang telah disepakatinya dengan mendiang ayahnya.
Untuk itu dia mengirimkan lamaran kepada putri raja dari kerajaan sebelah, yang langsung disetujui oleh raja dari kerajaan itu. Saat kekasih pertamanya mendengar berita tersebut, dia menjadi sangat sedih. Setiap hari dia merindukan kekasihnya hingga sakit dan hampir meninggal.
Ayah si Putri pun berkata kepadanya, "Anakku tersayang, mengapa kamu begitu sedih? Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakanlah dan aku akan mengabulkannya."
Si Putri yang bermuram durja itu merenung sejenak, dan kemudian berkata, "Ayah, aku menginginkan sebelas gadis yang semirip mungkin denganku, baik tinggi badan, usia, dan penampilanku."
Raja kemudian berkata, "Jika hal itu memungkinkan, keinginanmu akan aku penuhi!"
Dia pun memerintahkan untuk mencari dan mendapatkan sebelas gadis yang mirip dengan postur tubuh maupun penampilan putrinya di seluruh penjuru kerajaannya. Kemudian sang Putri juga minta untuk dibuatkan dua belas pakaian pemburu yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, dan kesebelas gadis itu pun memakai pakaian pemburu tersebut, dan sang Putri sendiri memakai pakaian yang kedua belas
Setelah itu, dia pamit kepada ayahnya, dan melaju bersama sebelas gadis berpakaian pemburu menuju ke kerajaan kekasihnya. Setibanya di kerajaan kekasihnya, dia pun menawarkan diri untuk menjadi pemburu kerajaan, dengan persyaratan bahwa sang Raja harus menerima mereka semua secara bersamaan.
Raja yang melihat si Putri ini, tidak mengenalinya dalam pakaian dan samarannya sebagai pemburu. Sang Raja hanya berpikir bahwa kedua belas pemburu ini semuanya masih muda dan terlihat gagah. Maka dia pun berkata, "Ya, aku dengan senang hati menerima mereka semua."
Setelah itu, resmilah mereka semua menjadi dua belas pemburu kerajaan. Sekarang, sang Raja memiliki singa yang luar biasa, karena singa tersebut bisa mengendus segala sesuatu yang tersembunyi atau bersifat rahasia.
Suatu malam sang Singa bertanya kepada sang Raja, "Jadi, Yang Mulia pikir, Yang Mulia telah mendapatkan dua belas laki-laki pemburu?"
"Ya, tentu saja," jawab sang Raja, "mereka adalah dua belas laki-laki pemburu."
"Yang Mulia keliru," kata sang  Singa, "mereka adalah dua belas orang gadis."
"Itu tidak mungkin," tegas sang Raja, "bagaimana kamu bisa membuktikan perkataanmu itu?"
"Taburkanlah sejumlah kacang polong di atas lantai di ruangan utama istana," kata sang Singa, "dan Yang Mulia akan segera mendapatkan buktinya. Pria memiliki pijakan yang kuat, sehingga saat mereka berjalan di atas kacang polong, mereka tidak akan tergelincir, tetapi semua gadis akan tergelincir akibat menginjak kacang polong yang bulat."
Sang Raja menjadi senang dengan saran sang Singa, lalu memerintahkan pelayannya untuk menaburkan kacang polong di ruang utama istana. Untungnya, salah satu pelayan sang Raja yang akrab dengan para pemburu, mendengarkan pembicaraan bahwa para pemburu akan diuji. Maka dia bergegas pergi dan melaporkan hal itu kepada dua belas pemburu.
"Sang Singa mengatakan kepada sang Raja bahwa kalian adalah wanita," ungkap si Pelayan tersebut, membeberkan membeberkan semua rencana yang didengarnya dari sang Singa.
Si Putri lalu mengucapkan terima kasih atas petunjuk si Pelayan, dan setelah si Pelayan tersebut pergi, dia berkata kepada gadis pengikutnya, "Nanti, melangkahlah dengan kuat di atas kacang polong itu."
Keesokan pagi, sang Raja memanggil kedua belas pemburu, dan pemburu tersebut berjalan di ruang utama yang telah ditaburi dengan kacang polong. Mereka melangkah dengan kuat dan tegap, sehingga tidak satu pun kacang polong berguling pindah dari tempatnya.
Setelah mereka pergi, sang Raja berkata sang Singa, "LIhatlah, sekarang kamu tidak berkata dengan benar. Nah, kamu melihat sendiri bagaimana mereka berjalan seperti umumnya laki-laki."
"Karena mereka tahu mereka sedang diuji," elak sang Singa, "sehingga mereka berupaya agar tidak tergelincir. Ujilah kembali mereka dengan menempatkan selusin alat tenun di ruang utama. Ketika mereka melewati alat tenun tersebut, Yang Mulia akan melihat betapa senangnya mereka, berbeda dengan laki-laki."
Sang Raja pun senang dengan saran tersebut, dan memerintahkan pelayannya untuk menempatkan dua belas alat tenun di ruang utama istana. Tetapi pelayan yang baik hati ini melaporkan kembali kepada para pemburu tentang rencana sang Raja. Tidak lama kemudian, setelah sang Putri sendirian dan kembali bersama gadis pengikutnya, dia berkata, "Sekarang, berupayalah lebih keras, bahkan jangan pernah melirik ke alat tenun itu nanti."
Ketika Raja memanggil dua belas pemburu pada keesokan harinya, mereka berjalan melalui ruang utama tanpa melirik ke alat tenun yang sengaja di tempatkan di sana. Sesaat setelah itu, sang Raja kembali berkata kepada sang Singa, "Kamu telah membodohi aku lagi, mereka adalah laki-lak karena mereka tidak pernah melirik ke alat tenun di sana."
Singa itu menjawab, "Mereka tahu bahwa mereka sedang diuji, dan mereka berupaya keras menekan perasaan mereka."
Namun sang Raja menjadi tidak percaya lagi kepada sang Singa. Jadi dua belas pemburu ini tetap terus mengikuti ke manapun sang Raja pergi, dan setiap hari sang Raja semakin senang dengan mereka.
Suatu hari, di saat mereka semua keluar untuk berburu, datanglah berita yang mengatakan bahwa calon pengantin sang Raja sedang berada dalam perjalanan, dan akan tiba dalam waktu dekat di kerajaannya. Ketika sang Putri yang menyamar menjadi pemburu mendengar hal ini, dia merasa sangat sakit hati dan seolah-olah ada sebilah pisau yang menusuk hatinya. Dia pun terjatuh pingsan karenanya.
Sang Raja yang merasa khawatir  bahwa sesuatu telah terjadi pada pemburu kesayangannya, berlari untuk membantu, dan mulai menarik sarung tangan sang Pemburu agar terbuka. Saat itulah dia melihat cincin yang pernah diberikan kepada kekasihnya yang pertama. Saat sang Raja menatap dengan jelas wajah sang Putri yang berada di balik kedok samarannya, maka dia langsung mengenali wajah sang Putri.
Pada saat sang Putri membuka matanya, sang Raja berkata, "Aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku, dan tidak ada kekuatan di bumi yang bisa mengubah hal ini."
Untuk si Putri yang berada dalam perjalanan menuju kerajaannya, sang Raja mengirimkan utusan untuk memohon agar dia kembali saja ke kerajaannya sendiri. "Karena aku telah menemukan istriku, dan siapapun yang telah menemukan kunci lamanya, tidak memerlukan kunci yang baru lagi," demikian pesan yang dibawa oleh utusan sang Raja kepada si Putri dari kerajaan sebelah.
Tidak lama kemudian, pernikahan antara sang Raja dan sang Putri yang dicintainya itu dirayakan dengan meriah dan mewah. Sementara itu, sang Singa kembali menjadi hewan kesayangan sang Raja sebab semua yang telah dikatakannya sesungguhnya adalah benar.
 Sangat menarik bukan kisah cerita dongeng diatas, masih banyak cerita-cerita yang lainya yang tidak kalah serunya hanya di blog cerita ini.

Si Burung Gagak dan Rubah - Cerita Fabel

 Si Burung Gagak dan Rubah - Cerita Fabel - Banyak sekali cerita yang bertemakan hewan (fabel) yang dapat memberi kita sebuah pelajaran, tak terkecuali dengan cerita fabel berikut ini, dimana dengan hanya memberi pujian-pujian palsu si rubah mendapatkan apa yang diinginkanya dari gagak.
Di suatu pagi yang cerah, seekor rubah mengendus-endus dengan penciumannya yang tajam ke seluruh penjuru hutan dengan tujuan mencari sesuatu untuk dimakan, dia melihat seekor burung gagak yg bertengger pada dahan pohon di depannya. Gagak tersebut bukanlah merupakan gagak yang pertama kali dilihat oleh sang Rubah. Yang menjadi perhatian utama sang Rubah dan membuatnya menoleh, adalah Gagak tersebut memegang sedikit keju di paruhnya.

"Tidak perlu mencari lebih jauh lagi," pikir sang Rubah. "Di sini bisa saya dapatkan makan pagi ku."
Sang Rubah lalu berjalan mendekati pohon dimana sang Gagak bertengger, melihat ke atas dengan pandangan kagum, lalu berteriak, "Selamat pagi mahluk yang cantik!"Burung gagak, sambil memiringkan kepalanya ke samping, memandangi sang Rubah dengan curiga, sembari tetap menutup rapat paruhnya dan tidak membalas salam sang Rubah.
"Sungguh mahluk yang mengagumkan!" kata sang Rubah. "Bagaimana bulunya bersinar! Sungguh indah dan mengagumkan sayapnya! Burung yang secantik ini seharusnya memiliki suara yang sangat merdu, karena segala sesuatu tentang dia sangatlah sempurna. Seandainya dia bisa menyanyikan satu lagu, saya pasti memujanya sebagai ratu dan segala burung."
Mendengar semua kata-kata pujian, sang Gagak lupa akan segala kecurigaannya dan juga keju yang dipegang di paruhnya. Dia sangat ingin disebut sebagai ratu dari segala burung.
Dia lalu membuka paruhnya lebar-lebar untuk mengeluarkan kicauannya yang terkeras, dan saat itu jatuhlah keju dari paruhnya langsung menuju mulut rubah yang terbuka.
"Terima kasih," kata sang Rubah dengan manisnya sambil berjalan pergi. "Walaupun serak, kamu pasti memiliki suara. Tetapi di manakah otakmu?"
Siapapun yang senang mendengarkan pujian palsu, tidaklah bijaksana, karena tidak membawa hal-hal yang menguntungkan.
Lihat cerita fabel lainya yuk hanya di blog cerita-cerita pendek ini.

Wanita Pemalas dan Tiga Orang Penenun - Cerita Dongeng

Wanita Pemalas dan Tiga Orang Penenun - Cerita Dongeng - Kali ini adalah sebuah cerita dongeng tentang seorang wanita yang memiliki sifat pemalas dan tiga orang wanita penenun, dimana gadis pemalas tersebut akan dinikahkan dengan putra ratu jika dia sanggup menyelesaikan tenunan sebanyak 3 kamar, bagaimana ceritanya, selamat membaca:

Dahulu kala ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain, dan ibunya tidak pernah bisa membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran dan mulai memukul anak gadisnya dengan keras. Pada saat itu Ratu yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah gadis tersebut karena mendengar gadis itu menangis. Ratu kemudian masuk ke dalam rumah dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu dan mengapa ibunya memukuli anak gadisnya sampai-sampai semua orang yang berada di jalan dapat mendengarkan gadis tersebut menangis.
Ibu gadis tersebut menjadi sangat malu untuk mengakui kemalasan anak gadisnya, sehingga dia berkata,
"Saya tidak bisa menghentikan dia menenun, dia selalu ingin mengerjakannya setiap waktu dan saya terlalu miskin sehingga tidak bisa menyediakan dia rami - bahan untuk ditenun yang cukup."
Kemudian Ratu menjawab,
"Saya sangat senang mendengar suara roda alat pemintal, dan saya merasa senang mendengarkan mereka bersenandung, biarkanlah saya membawa putrimu ke istana, saya mempunyai banyak rami dan bahan tenung, di sana dia dapat memintal dengan hati gembira."
Ibu gadis tersebut sangat senang mendengarkan tawaran itu, dan Ratu pun kemudian membawa gadis tersebut bersamanya. Ketika mereka mencapai istana, Ratu memperlihatkan tiga ruangan yang penuh dengan rami dan bahan tenun yang terbaik yang ada di kerajaannya.
"Sekarang kamu dapat menenun rami ini," Katanya, "dan bila kamu berhasil menyelesaikannya, kamu akan saya nikahkan dengan putra tertua saya; kamu mungkin miskin tapi saya tidak akan memperdulikan hal itu, kain yang kamu buat dari rami ini cukup sebagai emas kawin,"
Gadis itu ketakutan dalam hati, karena dia sama sekali tidak dapat menenun, biarpun dia hidup seratus tahun dan duduk menenun setiap hari selama hidupnya dari pagi sampai malam. Dan ketika dia berada sendirian dia mulai menangis, dan duduk selama tiga hari tanpa menyentuh alat tenun. Pada hari ketiga, Ratu datang, dan ketika dia melihat tidak ada satupun tenunan yang selesai, dia lalu terkejut; tetapi gadis tersebut beralasan bahwa dia belum bisa mulai menenun karena dia masih bersedih akibat perpisahan dengan rumah dan ibunya. Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi ketika Ratu akan beranjak pergi, dia mengatakan "Besok pekerjaan kamu harus dimulai."
Ketika gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam kebingungannya dia cuma keluar dan menatap keluar jendela. Saat itu dilihatnya tiga orang wanita lewat didepannya, dan wanita yang pertama memiliki kaki yang lebar dan rata, yang kedua mempunyai bibir yang tergantung turun sampai ke dagunya, dan yang ketiga memiliki ibu jari tangan yang sangat lebar. Mereka kemudian berhenti di depan jendela, dan mencoba bertanya apa saja yang gadis itu inginkan. Gadis itu menjelaskan apa yang dibutuhkannya, dan mereka berjanji akan membantunya, dan berkata,
"Kamu harus mengundang kami ke pesta pernikahanmu, dan tidak malu karena kehadiran kami, menyebut kami sebagai sanak keluarga dan sepupumu, dan diperbolehkan duduk satu meja dengan kamu; jika kamu berjanji akan memenuhi hal ini, kami akan menyelesaikan tenunan tersebut dalam waktu singkat."
"Saya berjanji sepenuh hati," jawab si gadis; "masuklah dan mulailah sekarang."
Lalu ketiga wanita itu masuk, dan mereka membersihkan sedikit ruangan pada kamar pertama untuk mereka agar mereka dapat duduk dan menempatkan alat tenun mereka.  Wanita yang pertama menarik keluar benang dan mulai menapakkan kakinya ke tuas yang memutar roda alat tenun, wanita yang kedua membasahi benang,  dan wanita yang ketiga memilin dan meratakannya dengan ibu jarinya diatas meja, perlahan-lahan gulungan-gulungan benang yang indah berjatuhan diatas lantai, dan ini menghasilkan tenunan yang sangat indah. Gadis itu menyembunyikan ketiga wanita penenun itu dari pandangan mata sang Ratu sehingga setiap kali Ratu berkunjung, sang Ratu hanya melihat dia sendirian bersama tumpukan tenunan yang sangat indah; dan tidak terhingga pujian-pujian yang diterimanya dari Ratu. Ketika kamar pertama sudah kosong, mereka mulai menenun di kamar kedua, lalu ke kamar ketiga sampai semua rami telah selesai di tenun. Lalu saat ketiga wanita penenun itu akan pergi, mereka berkata pada sang Gadis,
"Jangan lupa dengan apa yang kamu janjikan, dan semuanya akan menjadi lebih baik untuk kamu."
Ketika sang Gadis memperlihatkan pada Ratu ruangan yang telah kosong, dan sejumlah besar tenunan, Ratu langsung mengatur pernikahan gadis itu dengan putranya yang tertua, dan mempelai pria itupun sangat senang karena mendapatkan calon istri yang sangat pandai dan rajin.
"Saya mempunyai tiga orang sepupu," kata Gadis itu, "dan karena mereka sangat baik kepada saya, Saya tidak akan pernah lupa kepada mereka disaat saya mendapatkan keberuntungan; bisakah saya mengundang mereka datang ke pesta, dan meminta mereka duduk satu meja dengan kita?"
Ratu dan putra tertuanya yang akan menjadi calon suami berkata bersamaan,
"Kamu boleh mengundangnya datang, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengundangnya kesini,"
Ketika perjamuan dimulai, ketiga wanita penenun tersebut datang tanpa menyembunyikan keburukan rupa mereka, dan sang Gadis berkata,
"Sepupuku yang baik, selamat datang."
"Oh," kata mempelai pria, "bagaimana kamu bisa mempunyai sanak keluarga yang sangat buruk rupa?"
Kemudian dia menemui wanita penenun yang pertama dan bertanya kepadanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai kaki yang begitu lebar dan rata?"
"Saya selalu menapakkan kaki saya pada alat tenun," katanya.
Ketika dia menemui wanita yang kedua dan bertanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai bibir yang bergantungan sampai ke dagumu?"
"Dengan menjilat benang." katanya,
Dan kemudian dia bertanya kepada wanita yang ketiga,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai ibu jari yang sangat besar dan lebar?"
"Dengan memilin benang," katanya.
Kemudian mempelai pria berkata bahwa semenjak saat itu, sang gadis yang menjadi istrinya ini harus berhenti untuk menenun dan jangan pernah menyentuh alat tenun lagi.
Dan begitulah akhirnya sang gadis lepas dari pekerjaan menenun yang melelahkan.
Baca cerita dongeng lainya ea hanya di blog cerita ini. makasih