Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Segelas Susu Dari Mak Untuk Adi - Cerita Anak

Segelas Susu Dari Mak Untuk Adi - Cerita Anak kali ini berkisah tentang anak yang menginginkan segelas susu dari ibunya karena iri dengan temanya, cerita ini sama seperti yang saya alami saat kecil dulu, dimana orang tua masih hidup dalam kondisi pas-pasan dan hanya dapat memberi segelas air susu tajin. selamat membaca kawan:

Adi menatap Dodi yang yang sedang meneguk segelas susu. Adi bisa merasakan betapa nikmatnya susu itu melihat cara Dodi minum yang berselera. “Enak Dod ?” Adi bertanya. Dodi tidak menjawab. Cuma matanya merem melek keenakan. Setelah tegukan terakhir, ia menjilati bibirnya. “Hmm...syedaaaap...” kata Dodi. Adi menelan ludah. Ingin sekali rasanya ia merasakan susu yang dinikmati Dodi. Tapi kata Dodi susu itu mahal harganya. “Yuk ah..aku harus pulang, Mau mandi”. Dodi berlari meninggalkan Adi. Anak itu masuk ke rumahnya. Adi menatap Dodi hilang di rumah besar bercat putih itu. Lalu ia berbalik. Ia harus pulang juga. Mak pasti sudah menunggu di rumah.

Adi memperhatikan Mak yang sedang menguleni adonan untuk Pisang goreng. Kelihatan capek. Tadi pagi Mak mencuci banyak sekali. Dan siangnya harus menyeterika. Lalu habis sholat Ashar Mak langsung membuat adonan untuk Pisang goreng. “Kenapa Di ? kok tidak biasanya kamu memperhatikan Mak seperti itu ?” tiba-tiba Mak bertanya. Adi tersipu-sipu. “Mak kalau Adi minta sesuatu boleh enggak ?” akhirnya Adi menjawab. Mak menghentikan gerakan tangannya mencelupkan Pisang ke adonan tepung. Mak heran, tidak biasanya Adi meminta sesuatu. Walaupun berumur hampir enam tahun sepertinya Adi mengerti betapa susahnya kehidupan mereka. Betapa Mak harus membanting tulang untuk makan mereka berdua karena Bapak telah meninggal sejak ia berusia satu tahun. “Adi mau minta apa ?” Mak bertanya setelah diam sejenak.

“Adi ingin minum susu seperti Dodi”. Mak menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Anak satu-satunya minta dibelikan segelas susu seperti temannya. Sebuah permintaan yang wajar. Dan memang sudah seharusnya anak sebesar Adi selalu minum susu tiap hari. Tapi apa dayanya ? “Mak bisakan Adi mendapat segelas susu? Nanti Adi akan lebih giat membantu Mak. Bisa ya, Mak ?” Adi berkata penuh harap. Mak tidak tega untuk mengecewakannya. Anaknya tidak pernah minta yang macam-macam selama ini. Ia selalu menerima apa adanya. Barangkali sekarang begitu besar keinginannya sampai meminta kepada Mak. Akhirnya Mak Cuma bisa mengangguk dalam diam. Mata wanita itu kini semakin berkabut melihat sinar kebahagiaan di mata anaknya. “Terima kasih, Mak. Sekarang Adi mau bersiap-siap menjajakan gorengan ini, Ntar Adi terus ngaji ke Masjid, ya Mak”.

“Lihat Dod. Sekarang aku juga bisa minum susu seperti kamu” dengan bangga Adi memperlihatkan segelas susu yang diberikan Mak barusan kepada Dodi. Lalu dengan gaya persis Dodi ia meneguk susu itu dengan nikmat. Dodi menatap dengan iri. Sepertinya susu yang diminum Adi lebih nikmat daripada susu yang biasa ia minum. “Enak Di ?” Dodi bertanya meyakinkan. Adi mengangguk. Ia mengelap sisa-sisa susu di bibirnya sebelum menjawab. “Hmmm.....syedaaaaaap...”

Di rumah Mak menggoreng Pisang dengan air mata berlinang. Ia tahu benar bahwa susu yang diberikannya pada anaknya bukanlah “susu”. Itu ia buat dari air tajin bekas menanak nasi. Ia Cuma bisa berharap anaknya bisa tetap berbahagia walau dengan “susu tajin”.
(Dipersembahkan buat “Adi-Adi” kecil di manapun berada)

Jangan pergi dulu, disini masih terdapat buanyak cerita-cerita lainya lengkap jangan lupa dibaca ea.

Anak yang Lupa Akan Kasih Sayang Orang Tua - Cerita Anak

Anak yang Lupa Akan Kasih Sayang Orang Tua - Cerita Anak - Pada cerita anak kali ini akan menceritakan seorang anak yang lupa akan banyaknya kasih sayang yang orang tuanya berikan, dia pergi dari rumah dan mendapatkan nasehat dari orang yang menolongnya, bagaimana cerita lengkapnya....yuk baca....! 
Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.
Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.
Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.
Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Adaapa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…
ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tsb.
“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”
Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
Diantara mungkin pernah mengalami peristiwa yang sama, selama orang tua kita masih ada yuk kita meminta maaf atas salah kita, dan banyak berterimakasih atas kasih sayang yang mereka berikan, terimakasih sudah membaca cerita anak yang berjudul Anak yang Lupa Akan Kasih Sayang Orang Tua, baca juga cerita lainya ea...

Si Anak yang Kehilangan kedua Tanganya Karena Mencoret Mobil - Cerita Anak

Si Anak yang Kehilangan kedua Tanganya Karena Mencoret Mobil - Cerita Anak - Pada cerita anak yang pertama ini akan menceritakan sebuah kisah dimana anak yang masih polos dan perlu kasih sayang harus kehilangan kedua tanganya hanya karena melakukan kesalahan yang wajar dilakukan oleh seorang anak kecil, penasaran dengan ceritanya...yuk langsung saja dibaca ...

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil1.jpg, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja motor.jpgkarena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

 
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya....semoga ini bisa menjadi bahan renungan kita semua...dan berfikir sebelum mengambil tindakan...salam..


Terimakasih sudah membaca cerita anak yang berjudul Si Anak yang Kehilangan kedua Tanganya Karena Mencoret Mobil.