#Cerita Motivasi

Browse More

#Cerita Fabel

Browse More

#Cerita Anak

Browse More

#Cerita Cinta

Browse More

Takdir Wanita Dari Kalangan Bawah dan Baron si Peramal - Cerita Dongeng

Takdir Wanita Dari Kalangan Bawah dan Baron si Peramal - Cerita Dongeng -Kali ini saya akan berbagi dongeng cinta seorang wanita miskin yang mendapatkan jodoh dari seorang peramal yang dipanggil si baron, namun si baron tidak menyukai jika anaknya memiliki jodoh dengan seorang wanita dari keluarga miskin, dia berusaha sekuat tenaga agar takdir tersebut tidak terjadi, bagaimana cerita selanjutnya, yuk selamat membaca:
Pada suatu masa, ada seorang baron (sebutan bangsawan Inggris) yang juga merupakan seorang yang menguasai ilmu sihir dan bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Suatu hari, ketika anaknya yang masih kecil berusia empat tahun, dia melihat ke dalam Buku Takdir untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan anaknya.
Dia menjadi cemas saat dia mendapati kenyataan bahwa bahwa putranya kelak akan menikah dengan seorang wanita dari kalangan bawah yang baru saja lahir. Sang Baron pun mengetahui bahwa ayah dari wanita kecil itu sangatlah miskin, dan dia telah memiliki lima anak.
Secepatnya dia menunggang kudanya, dan berkuda menuju ke rumah pria miskin tersebut, dan saat dia mendekati rumah pria yang anaknya baru saja lahir, dia melihat pria ini duduk dekat pintu, dengan muka sedih dan muram.
Sang Baron pun turun, berjalan ke dekat pria yang bersedih itu, dan berkata, "Apa yang terjadi, wahai Bapak yang baik?"
Pria yang ditanya pun menjawab, "Yang Mulia, terus terang, aku telah memiliki lima orang anak, dan sekarang keenam yang baru saja lahir, seorang anak perempuan. Di mana aku bisa mendapatkan roti untuk untuk mengisi perut mereka, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan."
"Jangan berputus asa, Bapak yang baik," kata sang Baron. "Jika hanya itu masalah Anda, aku dapat membantu Anda. Kebetulan aku sedang mencari anak perempuan kecil agar ada yang menemani anak saya nantinya, jika Anda berkenan, Aku akan memberikan anda 10 keping emas sebagai gantinya."
"Terima kasih banyak, Yang Mulia," kata pria itu dengan gembira karena selain mendapatkan uang, bayi perempuannya yang baru lahir akan mendapatkan rumah yang layak, karena itu dia lalu masuk ke dalam rumah serta keluar kembali sambil membawa bayi kecil yang baru lahir. Dia lalu menyerahkannya kepada sang Baron, yang membungkusnya dengan jubahnya lalu menaiki kudanya dan pergi bersama bayi tersebut. Tetapi sesampainya di pinggiran sebuah sungai, dia membuang bayi tersebut ke sungai yang mengalir deras, lalu berkata sambil berkuda untuk pulang ke kastilnya:
"Pergilah bersama takdirmu!"
Tetapi wanita kecil itu tidak tenggelam, jubah yang membungkus tubuh bayi itu menahannya agar tidak tenggelam untuk sementara waktu, dan dia pun terapung-apung di sungai, hingga akhirnya terdampar di depan sebuah gubuk nelayan yang saat itu sedang memperbaiki jalanya. Nelayan dan istrinya ini tidak memiliki anak dan mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Saat nelayan tersebut melihat bayi kecil yang terdampar, ia menjadi sangat bahagia dan membawanya pulang untuk diperlihatkan kepada istrinya, yang menerima bayi tersebut dengan tangan terbuka.
Di sanalah bayi tersebut menetap hingga berusia dewasa, dan bayi tersebut tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Pada suatu hari, sang Baron pergi berburu dengan beberapa orang sahabatnya di sepanjang tepi Sungai Ouse, dan berhenti di sebuah gubuk nelayan untuk minum.
Seorang wanita yang sangat cantik keluar untuk memberikan air minum kepada mereka. Sahabat-sahabat sang Baron kagum saat melihat kecantikan wanita itu, dan salah satu di antara mereka berkata kepada Baron, "Baron, Anda dapat meramal nasib, coba ramalkan nasib wanita itu, kira-kira dia akan menikah dengan siapa?"
"Oh, itu tidaklah sulit," jawab sang Baron. "Aku akan mencoba meramal nasibnya. Mendekatlah ke sini, Anakku, dan katakanlah, kamu dilahirkan pada hari apa?"
"Aku tidak tahu, Yang Mulia," jawab si wanita itu. "Aku ditemukan di sini setelah terbawa oleh arus sungai sekitar lima belas tahun yang lalu."
Seketika itu juga sang Baron mengetahui siapa sebenarnya si wanita ini, dan ketika mereka beranjak pergi dari gubuk nelayan, dia memutar kembali dan berkata kepada si wanita itu, "Aku akan memperbaiki keberuntunganmu. Ambil dan bawalah surat ini kepada saudaraku di Scarborough, dan kamu akan mendapatkan balasan yang cukup untuk menghidupi diri kamu seumur hidup."
Si wanita itu pun mengambil surat tersebut dan berjanji akan mengantarkannya. Tetapi wanita itu tidak menyadari bahwa isi surat itu berbunyi seperti ini:
"Saudaraku tercinta, binasakanlah pembawa surat ini!
Salamku,
Albert."
Tanpa mengetahui isi surat tersebut, si wanita segera berangkat menuju ke Scarborough, dan di tengah perjalanan dia bermalam di sebuah penginapan kecil. Namun, malam itu sekawanan perampok masuk ke penginapan dan mencari harta dari tamu-tamu penginapan. Mereka menggeledah kantung dan saku para tamu, dan mereka menemukan surat yang di bawa oleh si wanita.
Saat perampok tersebut membuka dan membaca surat sang Baron, mereka menjadi iba terhadap nasib si wanita dan menganggap rencana Baron itu sangatlah kejam. Pimpinan kawanan perampok itu pun mengambil pena dan kertas lalu menulis surat yang bunyinya:
"Saudaraku tercinta, nikahkanlah pembawa surat ini dengan putraku segera!
Salamku,
Albert."
Kemudian surat tersebut di segel ulang dan dikembalikan kepada si wanita itu, dan menyuruhnya untuk melanjutkan perjalanan. Dia pun berangkat menuju kastil saudara sang Baron di Scarborough, di mana putra sang Baron menginap. Ketika dia memberikan surat kepada saudara sang Baron, saudara sang Baron langsung menyiapkan pernikahan pada hari itu juga. Putra sang Baron, saat melihat wanita cantik ini, langsung jatuh cinta dan tidak membantah untuk dinikahkan.
Ketika kabar pernikahan mereka sampai di telinga sang Baron, dia merasa bahwa itu sudah menjadi takdir, tetapi sang Baron masih merasa keras kepala dan tidak mau menerima takdir itu begitu saja. Dia pun langsung berangkat dengan tergesa-gesa menuju ke kastil saudaranya dan saat dia tiba, dia berpura-pura senang dengan pernikahan tersebut. Suatu hari, ia meminta agar si wanita menemani dia berjalan-jalan di sepanjang tebing pinggiran laut.

Cerita dongeng hanya ada di http://ceritacerita-pendek.blogspot.com/
Saat si wanita tiba di dekat tebing, sang Baron memegang tangannya dan akan mendorong wanita tersebut ke pinggiran tebing. Tetapi wanita tersebut memohon agar sang Baron menaruh belas kasihan kepadanya, dan membiarkannya untuk tetap hidup.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun juga," ujarnya. "Jika Anda mengampuni aku, maka aku akan melakukan apapun yang Anda inginkan, aku tidak akan pernah melihat Anda atau anak Anda lagi kecuali Anda menginginkannya."
Kemudian sang Baron pun melepaskan cincin emasnya dan melemparkannya ke laut, sambil berkata, "Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, hingga kamu bisa memperlihatkan cincin itu kepadaku," seru sang Baron sembari membiarkan si wanita berlalu dengan airmata berlinang.
Wanita malang itu menjadi sangat sedih, dan berjalan terus menerus hingga akhirnya tiba di sebuah kastil besar. Dia pun memohon untuk diterima bekerja di kastil itu. Orang-orang di kastil menerima si wanita itu, dan mempekerjakannya sebagai juru masak istana karena dia telah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut saat tinggal di gubuk ayah angkatnya yang nelayan.
Pada suatu hari, si wanita kebetulan melihat tamu-tamu yang datang ke kastil, dan dia sangat terkejut saat melihat beberapa tamu tersebut tidak lain adalah sang Baron, saudara sang Baron, dan putra sang Baron yang juga merupakan suaminya. Si wanita bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, berdasarkan janjinya, dia seharusnya pergi dan menghindar. Tetapi akhirnya dia berkesimpulan bahwa mereka tidak akan melihatnya di dapur kastil sehingga perasaannya menjadi sedikit lega, dan melanjutkan pekerjaannya sambil menghela napas panjang.
Dia pun mulai membersihkan ikan besar yang akan direbus untuk dijadikan menu hidangan makan malam. Saat dia sedang membersihkan ikan itu, dia melihat sesuatu yang bersinar di dalamnya, dan apa yang dia temukan di dalam perut ikan? Tidak lain adalah cincin emas sang Baron yang dilemparkan oleh sang Baron dari pinggir tebing. Si wanita sangat girang melihat cincin tersebut, kemudian dia pun memasak ikan selezat mungkin untuk disajikan nanti.
Saat hidangan ikan disajikan di atas meja, para tamu sangat menyukainya sehingga mereka ingin sekali bertemu dengan orang yang memasak ikan tersebut. Pelayan pun memanggil si wanita untuk datang ke hadapan sang Baron. Si wanita kemudian membersihkan badannya dan merapikan penampilannya, serta memakai cincin emas milik sang Baron pada ibu jarinya, lalu naik ke aula untuk menghadap para tamu yang ingin melihatnya.
Ketika para tamu melihat bahwa yang memasak ikan tersebut adalah seorang wanita yang sangat cantik, mereka pun menjadi terkejut dan terpukau. Putra sang Baron sangat gembira melihat kehadiran istrinya, tetapi Sang Baron yang melihat wanita itu, menjadi sangat marah dan bergerak hendak memukul si wanita. Tanpa mengucapkan sepatah kata, wanita itu mengangkat dan memperlihatkan jari tangannya yang memakai cincin emas ke hadapan sang Baron, lalu dia membuka cincin tersebut serta meletakkannya di atas meja.
Akhirnya sang Baron menyadari bahwa tidak ada yang mampu melawan dan mengubah takdir, dan dia pun memegang tangan si wanita, lalu mengumumkan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa si wanita adalah istri dari putranya.
"Ini adalah istri dari putraku. Marilah kita minum untuk menghormatinya." kata sang Baron.
Saat selesai makan, Sang Baron pun mengajak si wanita untuk ikut bersama putranya pulang ke kastilnya, dan di sanalah si wanita bersama suaminya hidup berbahagia selamanya.

Baca-baca yuk cerita dongeng yang bagus-bagus hanya ada di blog cerita. terimakasih

Kisah Putra Mahkota Amat Mude Yang Memiliki Sifat Murah Hati - Aceh- Cerita Rakyat Nusantara

 
Kisah Putra Mahkota Amat Mude Yang Memiliki Sifat Murah Hati - Cerita Rakyat Nusantara - Negeri kita yang luas ini banyak sekali memiliki cerita-cerita rakyat yang menceritakan sebuah perjuangan yang membuahkan hasil dan mampu memberikan kita sebuah pelajaran dan pelajaran, tak terkecuali dengan cerita berikut yang berasal dari Aceh, selamat membaca:

Pada jaman kerajaan dulu, di Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya selalu patuh dan setia kepadanya. Negeri Alas pun senantiasa aman dan damai. Namun satu hal yang membuat sang Raja selalu bersedih, karena belum dikaruniai seorang anak. Sang Raja ingin sekali seperti adiknya yang sudah memiliki seorang anak.

Pada suatu hari, sang Raja duduk termenung seorang diri di serambi istana. Tanpa disadarinya, tiba-tiba permaisurinya telah duduk di sampingnya.

“Apa yang sedang Kanda pikirkan?” tanya permaisuri pelan.
“Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan ini,” ungkap sang Raja.
“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat merindukan seorang buah hati belaian jiwa. Kita telah mendatangkan tabib dari berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan hasil. Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” kata permaisuri menenangkan hati suaminya.

Alangkah sejuknya hati sang Raja mendengar kata-kata permaisurinya. Ia sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh pengertian dan perhatian kepadanya.
“Terima kasih, Dinda! Kanda sangat bahagia mempunyai permaisuri seperti Dinda yang pandai menenangkan hati Kanda,” ucap sang Raja memuji permaisurinya.

Sejak itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan. Pada suatu malam, sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.
“Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini. Hamba rela tidak merasakan sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra,” pinta sang Raja.

Sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Alangkah senang hati sang Raja mengetahui hal itu. Kabar tentang kehamilan permaisuri pun tersebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat negeri itu sangat gembira, karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan mewarisi tahtanya.

Waktu terus berjalan. Usia kandungan permaisuri sudah genap sembilan bulan. Pada suatu sore, permaisuri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil menimang-nimang putranya. Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan.

“Terima kasih Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa kami,” sang Raja berucap syukur.
Seminggu kemudian, sang Raja pun mengadakan pesta dan upacara turun mani, yakni upacara pemberian nama. Pesta dan upacara tersebut diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Tamu yang diundang bukan hanya rakyat negeri Alas, melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut maupun di darat. Seluruh tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria. Dalam upacara turun mani tersebut ditetapkan nama putra Raja, yakni Amat Mude.

Beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih.
“Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat. Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak,” ungkap sang Raja.

Mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih. Meskipun menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya. Semua tabib diundang ke istana untuk mengobati penyakit sang Raja. Namun, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Akhirnya, raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat. Seluruh keluarga istana dan rakyat Negeri Alas berkabung.

Oleh karena Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas. Sebagai seorang raja, apapun perintahnya pasti dipatuhi. Hal itulah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude. Berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Mulanya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah. Alasannya, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana.

Tipu muslihat Raja Muda semakin hari semakin menjadi-jadi. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.

“Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!” titah Raja Muda.
“Apa maksud Baginda?” tanya seorang pengawal heran.
“Sudahlah! Tidak usah banyak tanya. Aku kira kalian sudah tahu semua maksudku,” jawab Raja Muda.
“Ampun, Baginda! Hamba benar-benar tidak tahu maksud Baginda hendak membuang permaisuri dan putra mahkota ke tengah hutan,” kata seorang pengawal yang lain.
“Ketahuilah! Aku tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaan ini dari tanganku,” ungkap Raja Muda.
“Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini,” ungkap pengawal yang lain.
“Hei, kalian tidak usah banyak bicara. Laksanakan saja perintahku! Jika tidak, kalian akan menanggung akibatnya!” bentak Raja Muda. Mendengar ancaman itu, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara, karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.

Keesokan harinya, berangkatlah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan. Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya. Untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam, ibu dan anak itu pun membuat sebuah gubuk kecil di bawah sebuah pohon rindang. Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.

Waktu terus berjalan. Tak terasa Amat Mude telah berumur 8 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya. Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.

Keesokan harinya, Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan. Dalam waktu sekejap, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang. Alangkah gembiranya hati ibunya.

“Waaah, kamu pandai sekali memancing, Putraku!” ucap ibunya memuji.
“Iya, Ibu! Sungai itu banyak sekali ikannya,” kata Amat Mude. Lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan. Maka timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan mengajak Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu. Ketika akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tiba-tiba ia bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah. Ia adalah bekas sahabat suaminya dulu.

“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran. Permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu. Mengetahui keadaan permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut, saudagar itu pun mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.

Sesampainya di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude. Ketika sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan. Ia kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya.

“Hei, benda apa di dalam perut ikan ini? Kenapa keras sekali?” tanya istri saudagar itu dalam hati dengan penuh keheranan. Setelah berkali-kali istri saudagar itu menggesek-gesekkan pisaunya, akhirnya perut ikan itu pun terbelah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras. Ia pun segera memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut. Setelah diamati dengan seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah emas murni.

“Dik! Usai memasak dan menjamu tamu kehormatan kita, segeralah kamu jual emas itu!” pinta saudagar itu kepada istrinya.
“Untuk apa Bang?” tanya sang Istri heran.
“Uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya. Abang ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak membantu kita,” ujar saudagar itu kepada istrinya.
“Baik, Bang!” jawab sang Istri.

Kemudian saudagar itu menyampaikan berita gembira tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah rumah yang bagus. Mendengar kabar itu, permaisuri sangat terharu. Ia benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada mereka.

“Terima kasih atas semua perhatiannya kepada kami,” ucap permaisuri.
“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada kami,” kata saudagar itu sambil memberi hormat kepada permaisuri dan Amat Mude. Menjelang sore hari, permaisuri dan Amat Mude pun mohon diri untuk kembali ke gubuknya. Saudagar itu pun memberikan pakaian yang bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.

Beberapa lama kemudian, rumah permaisuri pun selesai dibangun. Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari mereka, Amat Mude pergi ke sungai setiap hari untuk memancing. Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar. Di antara ikan-ikan yang diperolehnya ada yang bertelur emas. Telur emas tersebut sedikit demi sedikit mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri.

Berita tentang kekayaan permaisuri dan putranya itu pun sampai ke telinga Pakcik Amat Mude, yakni Raja Muda.  Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.

Pada suatu hari, Raja Muda yang serakah itu memanggil Amat Mude untuk menghadap ke istana. Ketika Amat Mude sampai di istana, alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan memberi hormat di hadapannya. Dalam hatinya berkata, “pemuda ini benar-benar menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja”. Maka ia pun memerintahkan Amat Mude untuk pergi memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Buah kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda. Konon, lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.

“Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati,” ancam Raja Muda.  Oleh karena berniat ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai. Ia pun mulai kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu. Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.
“Sa... saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya. Mendengar cerita Amat Mude tersebut, Ikan Silenggang Raye, Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya. Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.

“Kenapa kalian hormat kepadaku?” tanya Amat Mude heran.
“Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik. Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!” jawab Raja Buaya.
“Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu,” sambung Naga besar itu.
“Terima kasih, Sobat!” ucap Amat Mude.

Akhirnya, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud. Tidak berapa lama, sampailah mereka di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude. Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan.

Setelah itu, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya. Rupanya, pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa. Setelah menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya, Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon. Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya, “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku.”

Ketika Amat Mude baru saja turun dari atas pohon sambil menenteng sebutir kelapa gading, tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya.

“Siapakah Engkau ini?” tanya Amat Mude.
“Aku adalah Putri Niwer Gading,” jawabnya. Alangkah takjubnya ketika ia melihat kecantikan Putri Niwer Gading. Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah. Pesta perkawinan mereka pun dirayakan dengan ramai di kediaman Amat Mude.

Usai pesta, Amat Mude ditemani istri dan ibunya segera menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya. Maka selamatlah ia dari ancaman hukuman mati. Bahkan, berkat ketabahan dan kebaikan hatinya, Raja Muda tiba-tiba menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya. Ia juga menyadari bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas. Akhirnya, atas permintaan Raja Muda, Amat Mude pun dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.


=== S E L E S A I ===
Baca cerita rakyat nusantara lainya ea, masih ada ratusan menarik yang belum anda baca.

Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng

Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng - Banyak Sekali cerita dongeng yang saya sukai dan selalu ingat, salah satunya cerita dongeng yang satu ini, kisahnya hampir sama dengan cerita dongeng lainya namun pada cerita ini alur cerita dan tokohnya sedikit berbeda namun sangat menarik untuk dibaca, berikut ceritanya:
Di sebuah rumah besar yang terletak di tepi pantai, hiduplah seorang bangsawan tua yang kaya raya, yang tidak memiliki istri dan anak yang masih hidup, kecuali seorang cucu perempuan yang wajahnya tidak pernah dilihatnya seumur hidup. Bangsawan Tua tersebut sangat membenci cucu perempuannya karena menganggap si Cucu Perempuan inilah yang menyebabkan kematian anak perempuan yang sangat disayangi saat melahirkan. Saat perawat akan memperlihatkan sang cucu yang masih bayi, Bangsawan Tua tersebut menolak bahkan berkata dan bersumpah, apapun yang terjadi pada cucunya, hidup ataupun mati, dia tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya tersebut.
Lalu dia membalikkan badan, duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah laut, menangisi anak perempuannya yang telah meninggal, hingga rambut dan janggutnya yang putih tumbuh melebihi bahu serta mengelilingi tempat duduknya hingga akhirnya menyentuh lantai, dan air matanya yang menetes turun lewat jendela, membentuk alur pada batu di bawahnya dan akhirnya menjadi sungai kecil yang menuju ke laut. Sementara itu, cucu perempuannya tumbuh tanpa ada yang memberikan perhatian, atau memberinya pakaian yang layak, hanya perawat tuanyalah yang berbaik-hati, dimana saat tidak terlihat orang lain, kadang memberikan dia sedikit makanan dari dapur, atau pakaian yang penuh dengan tambalan dan terbuat dari kain karung; sementara pelayan-pelayan di rumah itu sering mengusirnya keluar dengan pukulan ataupun ejekan, memanggil dia dengan sebutan si "Compang-camping", menunjuk-nunjuk kaki dan bahunya yang telanjang, hingga akhirnya sang Cucu berlari keluar, menangis, dan bersembunyi di semak-semak.
Akhirnya sang Cucu beranjak menjadi dewasa dengan makanan dan pakaian yang seadanya, menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan hanya di temani oleh seorang penggembala angsa yang pincang. Si Gembala Angsa ini adalah orang yang sangat periang, di saat sang Cucu kelaparan, kedinginan, atau keletihan, si Gembala tersebut akan memainkan suling kecilnya sehingga sang Cucu melupakan semua masalahnya dan akhirnya ikut menari bersama sekumpulan angsa.
Pada suatu hari, orang-orang ramai membicarakan tentang Raja yang akan melakukan perjalanan melalui tanah dan kota mereka, dan untuk itu, Raja akan membuat perjamuan dan pesta dansa yang besar untuk para bangsawan dari negeri tersebut, dan Pangeran, putra satu-satunya, akan memilih seorang istri dari kalangan bangsawan tersebut. Saat waktunya tiba, salah satu undangan kerajaan untuk menghadiri pesta dansa sampai ke rumah sang Bangsawan Tua. Seorang pelayan mengantarkan undangan tersebut ke Bangsawan Tua yang masih duduk di dekat jendela, terlilit oleh rambut putihnya yang panjang dan masih meneteskan airmata ke sungai kecil di bawah jendela.
Saat mendengar perintah sang Raja dalam undangan, dia mengeringkan air mata dan menyuruh pelayan untuk memotong rambutnya yang panjang. Kemudian dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan baju dan perhiasan yang mewah yang akan dipakainya; lalu dia juga memerintahkan mereka untuk memberi pelana yang berhiaskan emas dan sutra pada kuda putihnya, karena sang Bangsawan Tua akan mengendarai kuda bersama dengan sang Raja; Namun dia sama sekali lupa bahwa dia memiliki seorang cucu perempuan yang bisa dibawa ke pesta dansa tersebut.
Sementara itu si Compang-camping duduk di lantai dapur sambil menangis saat mengetahui bahwa dirinya tidak dibawa untuk menghadiri pesta dansa. Dan ketika perawat tua mendengarnya menangis, dia lalu menghadap ke Bangsawan Tua, memohon agar bangsawan tersebut membawa cucu perempuannya menghadiri pesta dansa sang Raja.
Tetapi bangsawan tua itu cuma mengernyitkan dahi dan menyuruhnya diam; sementara pelayan yang lain tertawa dan berkata sinis, "Si Compang-camping cukup senang dengan pakaian tambalannya dan bermain bersama si Gembala Angsa! Biarkan saja dia, karena dia sudah pantas dengan keadaannya yang sekarang."
Kedua dan ketiga kalinya, perawat tua tersebut terus memohon agar sang Cucu dapat ikut ke pesta, tetapi jawaban yang didapatkan adalah tatapan marah dan kata-kata yang kasar, hingga akhirnya dia dikeluarkan dari ruangan oleh pelayan-pelayan yang mengolok-oloknya dengan kata-kata kasar disertai pukulan.
Sang perawat tua menangis sedih karena tidak berhasil membujuk tuannya, berusaha untuk mencari si Compang-camping; tetapi gadis tersebut telah diusir keluar oleh tukang masak di dapur, dan mencari temannya si Gembala angsa untuk menceritakan kepedihannya karena tidak dapat hadir di pesta sang Raja.
Saat Gembala Angsa mendengarkan kisahnya, dia lalu menghiburnya dan mengajukan usulan agar mereka pergi bersama menuju kota untuk melihat Raja dan segala hal yang indah-indah; dan ketika si Compang-Camping terlihat sedih saat memandang bajunya yang terbuat dari tambalan-tambalan kain karung serta kakinya yang tidak memiliki alas kaki, sang Gembala memainkan satu-dua lagu dengan sulingnya hingga suasana berubah ceria, dan si Compang-Camping melupakan semua derita dan air matanya, dan tanpa disadarinya, sang Gembala telah menarik tangannya untuk menari sepanjang jalan menuju kota.
"Yang lumpuh pun masih bisa menari apabila mau," ujar si Gembala Angsa sembari meniup sulingnya.
Sebelum mereka berjalan terlalu jauh, seorang pemuda yang tampan, berpakaian mewah, berkendara kuda, berhenti untuk menanyakan arah kastil di mana sang Raja menginap, dan ketika dia tahu bahwa arah yang mereka tuju adalah sama, sang Pemuda turun dari kudanya dan berjalan bersama mereka.
Cerita dongeng hanya di >>>  ceritacerita-pendek.blogspot.com
"Kamu sepertinya orang yang menyenangkan dan enak dijadikan teman," katanya, 
"Teman yang baik, pastinya," kata sang Gembala lalu meniup sulingnya dengan nada yang aneh.
Nada sulingnya sangat aneh, dan membuat sang Pemuda menatap dan menatap terus ke arah si Compang-Camping hingga dia tidak memperhatikan lagi baju yang penuh tambalan yang tengah dikenakan oleh si Compang-Camping. Hanya wajah cantik si Compang-Camping yang terlihat menarik perhatian sang Pemuda.
Lalu sang Pemuda berkata, "Kamu adalah wanita tercantik di dunia, Maukah engkau menjadi pendamping hidup saya?"
Saat itu sang Gembala Angsa tersenyum sendiri dan memainkan lagu yang sangat merdu.
Tetapi si Compang-Camping hanya tertawa. "Anda salah, sepertinya saya tidak pantas untuk jadi pendamping Anda," katanya; "Anda akan merasa malu demikian juga dengan saya, apabila Anda mengangkat gadis seperti saya menjadi istri Anda! Pergi dan pinanglah salah seorang dari gadis bangsawan yang Anda lihat nantinya di pesta dangsa Raja, dan tidak usah memperhatikan gadis miskin seperti saya."
Semakin sang gadis menolak, semakin merdu lagu yang dimainkan oleh si Gembala Angsa, dan semakin dalam jugalah sang Pemuda jatuh cinta kepada si Compang-Camping; hingga akhirnya sang Pemuda memohon agar si Compang-Camping berkenan hadir di pesta dansa Raja pada jam 12 malam nanti, bersama dengan Gembala Angsa dan angsa-angsanya, seadanya seperti sekarang, dengan pakaiannya yang penuh tambalan dan tanpa alas kaki, sebab sang Pemuda akan membuktikan bahwa dia akan tetap sudi berdansa dengannya di depan sang Raja dan seluruh bangsawan, sembari memperkenalkan bahwa dia adalah calon pengantinnya.
Saat si Compang-Camping akan menolak kembali, sang Gembala berkata, "Terimalah rezekimu yang datang saat ini."
Saat malam tiba, halaman kastil dipenuhi dengan cahaya dan suara musik, dimana para bangsawan menari di depan Raja. Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam, si Compang-Camping dan si Gembala Angsa, diikuti oleh kumpulan angsa yang riuh, memasuki pintu besar dan berjalan lurus langsung ke lantai dansa, sementara di samping kiri dan kanan, para bangsawan berbisik-bisik sambil tertawa meledek, dan Raja yang duduk di takhta, menatap dengan tatapan heran dengan pemandangan yang ganjil ini.
Saat mereka tiba di depan takhta, sang Pemuda yang ternyata adalah Pangeran, bangkit dari kursinya di samping Raja, dan menyambut si Compang-Camping. Memegang tangannya, lalu berbalik menghadap raja.
"Ayahanda!" ujarnya. "Saya telah menentukan pilihan, dan gadis di samping saya inilah pengantin saya, wanita tercantik dan termanis yang pernah saya temui di dunia ini!"
Sebelum dia selesai berkata, sang Gembala Angsa meniupkan sulingnya dan memainkan beberapa lagi yang terdengar seperti kicauan burung di tengah hutan; pada saat itu juga, Pakaian si Compang-Camping berubah menjadi gaun dan jubah yang indah dan penuh dengan perhiasan berkilau. Tak hanya itu, sebuah mahkota terpasang di atas rambutnya yang berwarna emas, dan sekumpulan angsa di belakangnya menjelma dayang-dayang yang memegang gaun indahnya yang panjang hingga ke belakang.
Saat sang Raja bangkit untuk menyambut, terompet di bunyikan untuk menghormati sang Putri, Seketika itu pula orang-orang yang berada di jalan saling bercerita. "Ah, sekarang Pangeran telah mendapatkan gadis tercantik di seluruh negeri sebagai istrinya!"
Semenjak saat itu, sang Gembala Angsa tidak pernah terlihat lagi, dan tidak ada yang pernah tahu kemana sang Gembala Angsa pergi; sementara itu, bangsawan tua terpaksa pulang ke rumahnya karena tidak bisa menetap lebih lama lagi di kastil akibat sumpahnya untuk tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya.
Sekarang si Bangsawan Tua itu masih duduk di dekat jendela, menangis dengan teramat sedih. Rambut putihnya tumbuh terurai hingga ke lantai, dan airmatanya mengalir seperti sungai yang menuju ke laut.
 Baca cerita dongeng lainya yang ada di blog cerita pendek ini.