Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan

Takdir Wanita Dari Kalangan Bawah dan Baron si Peramal - Cerita Dongeng

Takdir Wanita Dari Kalangan Bawah dan Baron si Peramal - Cerita Dongeng -Kali ini saya akan berbagi dongeng cinta seorang wanita miskin yang mendapatkan jodoh dari seorang peramal yang dipanggil si baron, namun si baron tidak menyukai jika anaknya memiliki jodoh dengan seorang wanita dari keluarga miskin, dia berusaha sekuat tenaga agar takdir tersebut tidak terjadi, bagaimana cerita selanjutnya, yuk selamat membaca:
Pada suatu masa, ada seorang baron (sebutan bangsawan Inggris) yang juga merupakan seorang yang menguasai ilmu sihir dan bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Suatu hari, ketika anaknya yang masih kecil berusia empat tahun, dia melihat ke dalam Buku Takdir untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan anaknya.
Dia menjadi cemas saat dia mendapati kenyataan bahwa bahwa putranya kelak akan menikah dengan seorang wanita dari kalangan bawah yang baru saja lahir. Sang Baron pun mengetahui bahwa ayah dari wanita kecil itu sangatlah miskin, dan dia telah memiliki lima anak.
Secepatnya dia menunggang kudanya, dan berkuda menuju ke rumah pria miskin tersebut, dan saat dia mendekati rumah pria yang anaknya baru saja lahir, dia melihat pria ini duduk dekat pintu, dengan muka sedih dan muram.
Sang Baron pun turun, berjalan ke dekat pria yang bersedih itu, dan berkata, "Apa yang terjadi, wahai Bapak yang baik?"
Pria yang ditanya pun menjawab, "Yang Mulia, terus terang, aku telah memiliki lima orang anak, dan sekarang keenam yang baru saja lahir, seorang anak perempuan. Di mana aku bisa mendapatkan roti untuk untuk mengisi perut mereka, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan."
"Jangan berputus asa, Bapak yang baik," kata sang Baron. "Jika hanya itu masalah Anda, aku dapat membantu Anda. Kebetulan aku sedang mencari anak perempuan kecil agar ada yang menemani anak saya nantinya, jika Anda berkenan, Aku akan memberikan anda 10 keping emas sebagai gantinya."
"Terima kasih banyak, Yang Mulia," kata pria itu dengan gembira karena selain mendapatkan uang, bayi perempuannya yang baru lahir akan mendapatkan rumah yang layak, karena itu dia lalu masuk ke dalam rumah serta keluar kembali sambil membawa bayi kecil yang baru lahir. Dia lalu menyerahkannya kepada sang Baron, yang membungkusnya dengan jubahnya lalu menaiki kudanya dan pergi bersama bayi tersebut. Tetapi sesampainya di pinggiran sebuah sungai, dia membuang bayi tersebut ke sungai yang mengalir deras, lalu berkata sambil berkuda untuk pulang ke kastilnya:
"Pergilah bersama takdirmu!"
Tetapi wanita kecil itu tidak tenggelam, jubah yang membungkus tubuh bayi itu menahannya agar tidak tenggelam untuk sementara waktu, dan dia pun terapung-apung di sungai, hingga akhirnya terdampar di depan sebuah gubuk nelayan yang saat itu sedang memperbaiki jalanya. Nelayan dan istrinya ini tidak memiliki anak dan mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Saat nelayan tersebut melihat bayi kecil yang terdampar, ia menjadi sangat bahagia dan membawanya pulang untuk diperlihatkan kepada istrinya, yang menerima bayi tersebut dengan tangan terbuka.
Di sanalah bayi tersebut menetap hingga berusia dewasa, dan bayi tersebut tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Pada suatu hari, sang Baron pergi berburu dengan beberapa orang sahabatnya di sepanjang tepi Sungai Ouse, dan berhenti di sebuah gubuk nelayan untuk minum.
Seorang wanita yang sangat cantik keluar untuk memberikan air minum kepada mereka. Sahabat-sahabat sang Baron kagum saat melihat kecantikan wanita itu, dan salah satu di antara mereka berkata kepada Baron, "Baron, Anda dapat meramal nasib, coba ramalkan nasib wanita itu, kira-kira dia akan menikah dengan siapa?"
"Oh, itu tidaklah sulit," jawab sang Baron. "Aku akan mencoba meramal nasibnya. Mendekatlah ke sini, Anakku, dan katakanlah, kamu dilahirkan pada hari apa?"
"Aku tidak tahu, Yang Mulia," jawab si wanita itu. "Aku ditemukan di sini setelah terbawa oleh arus sungai sekitar lima belas tahun yang lalu."
Seketika itu juga sang Baron mengetahui siapa sebenarnya si wanita ini, dan ketika mereka beranjak pergi dari gubuk nelayan, dia memutar kembali dan berkata kepada si wanita itu, "Aku akan memperbaiki keberuntunganmu. Ambil dan bawalah surat ini kepada saudaraku di Scarborough, dan kamu akan mendapatkan balasan yang cukup untuk menghidupi diri kamu seumur hidup."
Si wanita itu pun mengambil surat tersebut dan berjanji akan mengantarkannya. Tetapi wanita itu tidak menyadari bahwa isi surat itu berbunyi seperti ini:
"Saudaraku tercinta, binasakanlah pembawa surat ini!
Salamku,
Albert."
Tanpa mengetahui isi surat tersebut, si wanita segera berangkat menuju ke Scarborough, dan di tengah perjalanan dia bermalam di sebuah penginapan kecil. Namun, malam itu sekawanan perampok masuk ke penginapan dan mencari harta dari tamu-tamu penginapan. Mereka menggeledah kantung dan saku para tamu, dan mereka menemukan surat yang di bawa oleh si wanita.
Saat perampok tersebut membuka dan membaca surat sang Baron, mereka menjadi iba terhadap nasib si wanita dan menganggap rencana Baron itu sangatlah kejam. Pimpinan kawanan perampok itu pun mengambil pena dan kertas lalu menulis surat yang bunyinya:
"Saudaraku tercinta, nikahkanlah pembawa surat ini dengan putraku segera!
Salamku,
Albert."
Kemudian surat tersebut di segel ulang dan dikembalikan kepada si wanita itu, dan menyuruhnya untuk melanjutkan perjalanan. Dia pun berangkat menuju kastil saudara sang Baron di Scarborough, di mana putra sang Baron menginap. Ketika dia memberikan surat kepada saudara sang Baron, saudara sang Baron langsung menyiapkan pernikahan pada hari itu juga. Putra sang Baron, saat melihat wanita cantik ini, langsung jatuh cinta dan tidak membantah untuk dinikahkan.
Ketika kabar pernikahan mereka sampai di telinga sang Baron, dia merasa bahwa itu sudah menjadi takdir, tetapi sang Baron masih merasa keras kepala dan tidak mau menerima takdir itu begitu saja. Dia pun langsung berangkat dengan tergesa-gesa menuju ke kastil saudaranya dan saat dia tiba, dia berpura-pura senang dengan pernikahan tersebut. Suatu hari, ia meminta agar si wanita menemani dia berjalan-jalan di sepanjang tebing pinggiran laut.

Cerita dongeng hanya ada di http://ceritacerita-pendek.blogspot.com/
Saat si wanita tiba di dekat tebing, sang Baron memegang tangannya dan akan mendorong wanita tersebut ke pinggiran tebing. Tetapi wanita tersebut memohon agar sang Baron menaruh belas kasihan kepadanya, dan membiarkannya untuk tetap hidup.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun juga," ujarnya. "Jika Anda mengampuni aku, maka aku akan melakukan apapun yang Anda inginkan, aku tidak akan pernah melihat Anda atau anak Anda lagi kecuali Anda menginginkannya."
Kemudian sang Baron pun melepaskan cincin emasnya dan melemparkannya ke laut, sambil berkata, "Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, hingga kamu bisa memperlihatkan cincin itu kepadaku," seru sang Baron sembari membiarkan si wanita berlalu dengan airmata berlinang.
Wanita malang itu menjadi sangat sedih, dan berjalan terus menerus hingga akhirnya tiba di sebuah kastil besar. Dia pun memohon untuk diterima bekerja di kastil itu. Orang-orang di kastil menerima si wanita itu, dan mempekerjakannya sebagai juru masak istana karena dia telah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut saat tinggal di gubuk ayah angkatnya yang nelayan.
Pada suatu hari, si wanita kebetulan melihat tamu-tamu yang datang ke kastil, dan dia sangat terkejut saat melihat beberapa tamu tersebut tidak lain adalah sang Baron, saudara sang Baron, dan putra sang Baron yang juga merupakan suaminya. Si wanita bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, berdasarkan janjinya, dia seharusnya pergi dan menghindar. Tetapi akhirnya dia berkesimpulan bahwa mereka tidak akan melihatnya di dapur kastil sehingga perasaannya menjadi sedikit lega, dan melanjutkan pekerjaannya sambil menghela napas panjang.
Dia pun mulai membersihkan ikan besar yang akan direbus untuk dijadikan menu hidangan makan malam. Saat dia sedang membersihkan ikan itu, dia melihat sesuatu yang bersinar di dalamnya, dan apa yang dia temukan di dalam perut ikan? Tidak lain adalah cincin emas sang Baron yang dilemparkan oleh sang Baron dari pinggir tebing. Si wanita sangat girang melihat cincin tersebut, kemudian dia pun memasak ikan selezat mungkin untuk disajikan nanti.
Saat hidangan ikan disajikan di atas meja, para tamu sangat menyukainya sehingga mereka ingin sekali bertemu dengan orang yang memasak ikan tersebut. Pelayan pun memanggil si wanita untuk datang ke hadapan sang Baron. Si wanita kemudian membersihkan badannya dan merapikan penampilannya, serta memakai cincin emas milik sang Baron pada ibu jarinya, lalu naik ke aula untuk menghadap para tamu yang ingin melihatnya.
Ketika para tamu melihat bahwa yang memasak ikan tersebut adalah seorang wanita yang sangat cantik, mereka pun menjadi terkejut dan terpukau. Putra sang Baron sangat gembira melihat kehadiran istrinya, tetapi Sang Baron yang melihat wanita itu, menjadi sangat marah dan bergerak hendak memukul si wanita. Tanpa mengucapkan sepatah kata, wanita itu mengangkat dan memperlihatkan jari tangannya yang memakai cincin emas ke hadapan sang Baron, lalu dia membuka cincin tersebut serta meletakkannya di atas meja.
Akhirnya sang Baron menyadari bahwa tidak ada yang mampu melawan dan mengubah takdir, dan dia pun memegang tangan si wanita, lalu mengumumkan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa si wanita adalah istri dari putranya.
"Ini adalah istri dari putraku. Marilah kita minum untuk menghormatinya." kata sang Baron.
Saat selesai makan, Sang Baron pun mengajak si wanita untuk ikut bersama putranya pulang ke kastilnya, dan di sanalah si wanita bersama suaminya hidup berbahagia selamanya.

Baca-baca yuk cerita dongeng yang bagus-bagus hanya ada di blog cerita. terimakasih

Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng

Penggembala Angsa dan Cucu Bangsawan Tua - Cerita Dongeng - Banyak Sekali cerita dongeng yang saya sukai dan selalu ingat, salah satunya cerita dongeng yang satu ini, kisahnya hampir sama dengan cerita dongeng lainya namun pada cerita ini alur cerita dan tokohnya sedikit berbeda namun sangat menarik untuk dibaca, berikut ceritanya:
Di sebuah rumah besar yang terletak di tepi pantai, hiduplah seorang bangsawan tua yang kaya raya, yang tidak memiliki istri dan anak yang masih hidup, kecuali seorang cucu perempuan yang wajahnya tidak pernah dilihatnya seumur hidup. Bangsawan Tua tersebut sangat membenci cucu perempuannya karena menganggap si Cucu Perempuan inilah yang menyebabkan kematian anak perempuan yang sangat disayangi saat melahirkan. Saat perawat akan memperlihatkan sang cucu yang masih bayi, Bangsawan Tua tersebut menolak bahkan berkata dan bersumpah, apapun yang terjadi pada cucunya, hidup ataupun mati, dia tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya tersebut.
Lalu dia membalikkan badan, duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah laut, menangisi anak perempuannya yang telah meninggal, hingga rambut dan janggutnya yang putih tumbuh melebihi bahu serta mengelilingi tempat duduknya hingga akhirnya menyentuh lantai, dan air matanya yang menetes turun lewat jendela, membentuk alur pada batu di bawahnya dan akhirnya menjadi sungai kecil yang menuju ke laut. Sementara itu, cucu perempuannya tumbuh tanpa ada yang memberikan perhatian, atau memberinya pakaian yang layak, hanya perawat tuanyalah yang berbaik-hati, dimana saat tidak terlihat orang lain, kadang memberikan dia sedikit makanan dari dapur, atau pakaian yang penuh dengan tambalan dan terbuat dari kain karung; sementara pelayan-pelayan di rumah itu sering mengusirnya keluar dengan pukulan ataupun ejekan, memanggil dia dengan sebutan si "Compang-camping", menunjuk-nunjuk kaki dan bahunya yang telanjang, hingga akhirnya sang Cucu berlari keluar, menangis, dan bersembunyi di semak-semak.
Akhirnya sang Cucu beranjak menjadi dewasa dengan makanan dan pakaian yang seadanya, menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah dengan hanya di temani oleh seorang penggembala angsa yang pincang. Si Gembala Angsa ini adalah orang yang sangat periang, di saat sang Cucu kelaparan, kedinginan, atau keletihan, si Gembala tersebut akan memainkan suling kecilnya sehingga sang Cucu melupakan semua masalahnya dan akhirnya ikut menari bersama sekumpulan angsa.
Pada suatu hari, orang-orang ramai membicarakan tentang Raja yang akan melakukan perjalanan melalui tanah dan kota mereka, dan untuk itu, Raja akan membuat perjamuan dan pesta dansa yang besar untuk para bangsawan dari negeri tersebut, dan Pangeran, putra satu-satunya, akan memilih seorang istri dari kalangan bangsawan tersebut. Saat waktunya tiba, salah satu undangan kerajaan untuk menghadiri pesta dansa sampai ke rumah sang Bangsawan Tua. Seorang pelayan mengantarkan undangan tersebut ke Bangsawan Tua yang masih duduk di dekat jendela, terlilit oleh rambut putihnya yang panjang dan masih meneteskan airmata ke sungai kecil di bawah jendela.
Saat mendengar perintah sang Raja dalam undangan, dia mengeringkan air mata dan menyuruh pelayan untuk memotong rambutnya yang panjang. Kemudian dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan baju dan perhiasan yang mewah yang akan dipakainya; lalu dia juga memerintahkan mereka untuk memberi pelana yang berhiaskan emas dan sutra pada kuda putihnya, karena sang Bangsawan Tua akan mengendarai kuda bersama dengan sang Raja; Namun dia sama sekali lupa bahwa dia memiliki seorang cucu perempuan yang bisa dibawa ke pesta dansa tersebut.
Sementara itu si Compang-camping duduk di lantai dapur sambil menangis saat mengetahui bahwa dirinya tidak dibawa untuk menghadiri pesta dansa. Dan ketika perawat tua mendengarnya menangis, dia lalu menghadap ke Bangsawan Tua, memohon agar bangsawan tersebut membawa cucu perempuannya menghadiri pesta dansa sang Raja.
Tetapi bangsawan tua itu cuma mengernyitkan dahi dan menyuruhnya diam; sementara pelayan yang lain tertawa dan berkata sinis, "Si Compang-camping cukup senang dengan pakaian tambalannya dan bermain bersama si Gembala Angsa! Biarkan saja dia, karena dia sudah pantas dengan keadaannya yang sekarang."
Kedua dan ketiga kalinya, perawat tua tersebut terus memohon agar sang Cucu dapat ikut ke pesta, tetapi jawaban yang didapatkan adalah tatapan marah dan kata-kata yang kasar, hingga akhirnya dia dikeluarkan dari ruangan oleh pelayan-pelayan yang mengolok-oloknya dengan kata-kata kasar disertai pukulan.
Sang perawat tua menangis sedih karena tidak berhasil membujuk tuannya, berusaha untuk mencari si Compang-camping; tetapi gadis tersebut telah diusir keluar oleh tukang masak di dapur, dan mencari temannya si Gembala angsa untuk menceritakan kepedihannya karena tidak dapat hadir di pesta sang Raja.
Saat Gembala Angsa mendengarkan kisahnya, dia lalu menghiburnya dan mengajukan usulan agar mereka pergi bersama menuju kota untuk melihat Raja dan segala hal yang indah-indah; dan ketika si Compang-Camping terlihat sedih saat memandang bajunya yang terbuat dari tambalan-tambalan kain karung serta kakinya yang tidak memiliki alas kaki, sang Gembala memainkan satu-dua lagu dengan sulingnya hingga suasana berubah ceria, dan si Compang-Camping melupakan semua derita dan air matanya, dan tanpa disadarinya, sang Gembala telah menarik tangannya untuk menari sepanjang jalan menuju kota.
"Yang lumpuh pun masih bisa menari apabila mau," ujar si Gembala Angsa sembari meniup sulingnya.
Sebelum mereka berjalan terlalu jauh, seorang pemuda yang tampan, berpakaian mewah, berkendara kuda, berhenti untuk menanyakan arah kastil di mana sang Raja menginap, dan ketika dia tahu bahwa arah yang mereka tuju adalah sama, sang Pemuda turun dari kudanya dan berjalan bersama mereka.
Cerita dongeng hanya di >>>  ceritacerita-pendek.blogspot.com
"Kamu sepertinya orang yang menyenangkan dan enak dijadikan teman," katanya, 
"Teman yang baik, pastinya," kata sang Gembala lalu meniup sulingnya dengan nada yang aneh.
Nada sulingnya sangat aneh, dan membuat sang Pemuda menatap dan menatap terus ke arah si Compang-Camping hingga dia tidak memperhatikan lagi baju yang penuh tambalan yang tengah dikenakan oleh si Compang-Camping. Hanya wajah cantik si Compang-Camping yang terlihat menarik perhatian sang Pemuda.
Lalu sang Pemuda berkata, "Kamu adalah wanita tercantik di dunia, Maukah engkau menjadi pendamping hidup saya?"
Saat itu sang Gembala Angsa tersenyum sendiri dan memainkan lagu yang sangat merdu.
Tetapi si Compang-Camping hanya tertawa. "Anda salah, sepertinya saya tidak pantas untuk jadi pendamping Anda," katanya; "Anda akan merasa malu demikian juga dengan saya, apabila Anda mengangkat gadis seperti saya menjadi istri Anda! Pergi dan pinanglah salah seorang dari gadis bangsawan yang Anda lihat nantinya di pesta dangsa Raja, dan tidak usah memperhatikan gadis miskin seperti saya."
Semakin sang gadis menolak, semakin merdu lagu yang dimainkan oleh si Gembala Angsa, dan semakin dalam jugalah sang Pemuda jatuh cinta kepada si Compang-Camping; hingga akhirnya sang Pemuda memohon agar si Compang-Camping berkenan hadir di pesta dansa Raja pada jam 12 malam nanti, bersama dengan Gembala Angsa dan angsa-angsanya, seadanya seperti sekarang, dengan pakaiannya yang penuh tambalan dan tanpa alas kaki, sebab sang Pemuda akan membuktikan bahwa dia akan tetap sudi berdansa dengannya di depan sang Raja dan seluruh bangsawan, sembari memperkenalkan bahwa dia adalah calon pengantinnya.
Saat si Compang-Camping akan menolak kembali, sang Gembala berkata, "Terimalah rezekimu yang datang saat ini."
Saat malam tiba, halaman kastil dipenuhi dengan cahaya dan suara musik, dimana para bangsawan menari di depan Raja. Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam, si Compang-Camping dan si Gembala Angsa, diikuti oleh kumpulan angsa yang riuh, memasuki pintu besar dan berjalan lurus langsung ke lantai dansa, sementara di samping kiri dan kanan, para bangsawan berbisik-bisik sambil tertawa meledek, dan Raja yang duduk di takhta, menatap dengan tatapan heran dengan pemandangan yang ganjil ini.
Saat mereka tiba di depan takhta, sang Pemuda yang ternyata adalah Pangeran, bangkit dari kursinya di samping Raja, dan menyambut si Compang-Camping. Memegang tangannya, lalu berbalik menghadap raja.
"Ayahanda!" ujarnya. "Saya telah menentukan pilihan, dan gadis di samping saya inilah pengantin saya, wanita tercantik dan termanis yang pernah saya temui di dunia ini!"
Sebelum dia selesai berkata, sang Gembala Angsa meniupkan sulingnya dan memainkan beberapa lagi yang terdengar seperti kicauan burung di tengah hutan; pada saat itu juga, Pakaian si Compang-Camping berubah menjadi gaun dan jubah yang indah dan penuh dengan perhiasan berkilau. Tak hanya itu, sebuah mahkota terpasang di atas rambutnya yang berwarna emas, dan sekumpulan angsa di belakangnya menjelma dayang-dayang yang memegang gaun indahnya yang panjang hingga ke belakang.
Saat sang Raja bangkit untuk menyambut, terompet di bunyikan untuk menghormati sang Putri, Seketika itu pula orang-orang yang berada di jalan saling bercerita. "Ah, sekarang Pangeran telah mendapatkan gadis tercantik di seluruh negeri sebagai istrinya!"
Semenjak saat itu, sang Gembala Angsa tidak pernah terlihat lagi, dan tidak ada yang pernah tahu kemana sang Gembala Angsa pergi; sementara itu, bangsawan tua terpaksa pulang ke rumahnya karena tidak bisa menetap lebih lama lagi di kastil akibat sumpahnya untuk tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya.
Sekarang si Bangsawan Tua itu masih duduk di dekat jendela, menangis dengan teramat sedih. Rambut putihnya tumbuh terurai hingga ke lantai, dan airmatanya mengalir seperti sungai yang menuju ke laut.
 Baca cerita dongeng lainya yang ada di blog cerita pendek ini.

Putri Yang Menyamar Menjadi Wanita Pemburu - Cerita Dongeng

Putri Yang Menyamar Menjadi Wanita Pemburu - Cerita Dongeng - Cerita menarik yang wajib anda baca jika anda benar-benar menyukai cerita dongeng, berkisah tentang upaya seorang putri kerajaan yang menginginkan kekasihnya kembali. selamat membaca kawan:
Pada zaman dulu, ada seorang putra raja yang bertunangan dengan seorang putri yang sangat dia cintai. Suatu hari, saat mereka duduk berduaan, sang Putra Raja menerima kabar bahwa ayahnya sedang terbaring sakit. Untuk itulah dia bergegas pulang ke istananya untuk  menjenguk ayahnya sebelum ajalnya tiba.
Jadi sang Putra Raja itu berkata kepada kekasihnya, "Aku harus pergi dan meninggalkan kamu, tetapi ambillah cincin ini dan pakailah untuk mengenangku, dan ketika aku menjadi raja, aku akan kembali ke sini dan menjemputmu ke istanaku."
Lalu dia berkuda untuk pulang ke istana kerajaannya, dan ketika dia sampai, didapatinya ayahnya sedang yang sakit keras dan sekarat hampir mendekati ajal.
Raja lalu berkata kepadanya, "Anakku tersayang, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku meninggal. Berjanjilah kepadaku, aku mohon, bahwa kamu akan menikah sesuai dengan keinginanku," dan dia kemudian menyebutkan nama seorang putri dari kerajaan tetangga yang sangat menginginkan putra raja tersebut menjadi istrinya.
Karena sangat sedih, sang Pangeran itu tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali soal kesehatan ayahnya yang semakin memburuk. Lalu dia pun menyanggupi permintaan ayahnya. "Ya, ya, Ayah. Apapun yang Ayah inginkan dari aku, akan aku laksanakan."
Tak lama setelah mendengar kesanggupan putranya, sang Raja pun menutup matanya dan meninggal dengan tenang. Tidak lama kemudian, setelah masa berkabung telah selesai dan  sang Pangeran dilantik sebagai raja, maka dia merasa harus memenuhi janji yang telah disepakatinya dengan mendiang ayahnya.
Untuk itu dia mengirimkan lamaran kepada putri raja dari kerajaan sebelah, yang langsung disetujui oleh raja dari kerajaan itu. Saat kekasih pertamanya mendengar berita tersebut, dia menjadi sangat sedih. Setiap hari dia merindukan kekasihnya hingga sakit dan hampir meninggal.
Ayah si Putri pun berkata kepadanya, "Anakku tersayang, mengapa kamu begitu sedih? Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakanlah dan aku akan mengabulkannya."
Si Putri yang bermuram durja itu merenung sejenak, dan kemudian berkata, "Ayah, aku menginginkan sebelas gadis yang semirip mungkin denganku, baik tinggi badan, usia, dan penampilanku."
Raja kemudian berkata, "Jika hal itu memungkinkan, keinginanmu akan aku penuhi!"
Dia pun memerintahkan untuk mencari dan mendapatkan sebelas gadis yang mirip dengan postur tubuh maupun penampilan putrinya di seluruh penjuru kerajaannya. Kemudian sang Putri juga minta untuk dibuatkan dua belas pakaian pemburu yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, dan kesebelas gadis itu pun memakai pakaian pemburu tersebut, dan sang Putri sendiri memakai pakaian yang kedua belas
Setelah itu, dia pamit kepada ayahnya, dan melaju bersama sebelas gadis berpakaian pemburu menuju ke kerajaan kekasihnya. Setibanya di kerajaan kekasihnya, dia pun menawarkan diri untuk menjadi pemburu kerajaan, dengan persyaratan bahwa sang Raja harus menerima mereka semua secara bersamaan.
Raja yang melihat si Putri ini, tidak mengenalinya dalam pakaian dan samarannya sebagai pemburu. Sang Raja hanya berpikir bahwa kedua belas pemburu ini semuanya masih muda dan terlihat gagah. Maka dia pun berkata, "Ya, aku dengan senang hati menerima mereka semua."
Setelah itu, resmilah mereka semua menjadi dua belas pemburu kerajaan. Sekarang, sang Raja memiliki singa yang luar biasa, karena singa tersebut bisa mengendus segala sesuatu yang tersembunyi atau bersifat rahasia.
Suatu malam sang Singa bertanya kepada sang Raja, "Jadi, Yang Mulia pikir, Yang Mulia telah mendapatkan dua belas laki-laki pemburu?"
"Ya, tentu saja," jawab sang Raja, "mereka adalah dua belas laki-laki pemburu."
"Yang Mulia keliru," kata sang  Singa, "mereka adalah dua belas orang gadis."
"Itu tidak mungkin," tegas sang Raja, "bagaimana kamu bisa membuktikan perkataanmu itu?"
"Taburkanlah sejumlah kacang polong di atas lantai di ruangan utama istana," kata sang Singa, "dan Yang Mulia akan segera mendapatkan buktinya. Pria memiliki pijakan yang kuat, sehingga saat mereka berjalan di atas kacang polong, mereka tidak akan tergelincir, tetapi semua gadis akan tergelincir akibat menginjak kacang polong yang bulat."
Sang Raja menjadi senang dengan saran sang Singa, lalu memerintahkan pelayannya untuk menaburkan kacang polong di ruang utama istana. Untungnya, salah satu pelayan sang Raja yang akrab dengan para pemburu, mendengarkan pembicaraan bahwa para pemburu akan diuji. Maka dia bergegas pergi dan melaporkan hal itu kepada dua belas pemburu.
"Sang Singa mengatakan kepada sang Raja bahwa kalian adalah wanita," ungkap si Pelayan tersebut, membeberkan membeberkan semua rencana yang didengarnya dari sang Singa.
Si Putri lalu mengucapkan terima kasih atas petunjuk si Pelayan, dan setelah si Pelayan tersebut pergi, dia berkata kepada gadis pengikutnya, "Nanti, melangkahlah dengan kuat di atas kacang polong itu."
Keesokan pagi, sang Raja memanggil kedua belas pemburu, dan pemburu tersebut berjalan di ruang utama yang telah ditaburi dengan kacang polong. Mereka melangkah dengan kuat dan tegap, sehingga tidak satu pun kacang polong berguling pindah dari tempatnya.
Setelah mereka pergi, sang Raja berkata sang Singa, "LIhatlah, sekarang kamu tidak berkata dengan benar. Nah, kamu melihat sendiri bagaimana mereka berjalan seperti umumnya laki-laki."
"Karena mereka tahu mereka sedang diuji," elak sang Singa, "sehingga mereka berupaya agar tidak tergelincir. Ujilah kembali mereka dengan menempatkan selusin alat tenun di ruang utama. Ketika mereka melewati alat tenun tersebut, Yang Mulia akan melihat betapa senangnya mereka, berbeda dengan laki-laki."
Sang Raja pun senang dengan saran tersebut, dan memerintahkan pelayannya untuk menempatkan dua belas alat tenun di ruang utama istana. Tetapi pelayan yang baik hati ini melaporkan kembali kepada para pemburu tentang rencana sang Raja. Tidak lama kemudian, setelah sang Putri sendirian dan kembali bersama gadis pengikutnya, dia berkata, "Sekarang, berupayalah lebih keras, bahkan jangan pernah melirik ke alat tenun itu nanti."
Ketika Raja memanggil dua belas pemburu pada keesokan harinya, mereka berjalan melalui ruang utama tanpa melirik ke alat tenun yang sengaja di tempatkan di sana. Sesaat setelah itu, sang Raja kembali berkata kepada sang Singa, "Kamu telah membodohi aku lagi, mereka adalah laki-lak karena mereka tidak pernah melirik ke alat tenun di sana."
Singa itu menjawab, "Mereka tahu bahwa mereka sedang diuji, dan mereka berupaya keras menekan perasaan mereka."
Namun sang Raja menjadi tidak percaya lagi kepada sang Singa. Jadi dua belas pemburu ini tetap terus mengikuti ke manapun sang Raja pergi, dan setiap hari sang Raja semakin senang dengan mereka.
Suatu hari, di saat mereka semua keluar untuk berburu, datanglah berita yang mengatakan bahwa calon pengantin sang Raja sedang berada dalam perjalanan, dan akan tiba dalam waktu dekat di kerajaannya. Ketika sang Putri yang menyamar menjadi pemburu mendengar hal ini, dia merasa sangat sakit hati dan seolah-olah ada sebilah pisau yang menusuk hatinya. Dia pun terjatuh pingsan karenanya.
Sang Raja yang merasa khawatir  bahwa sesuatu telah terjadi pada pemburu kesayangannya, berlari untuk membantu, dan mulai menarik sarung tangan sang Pemburu agar terbuka. Saat itulah dia melihat cincin yang pernah diberikan kepada kekasihnya yang pertama. Saat sang Raja menatap dengan jelas wajah sang Putri yang berada di balik kedok samarannya, maka dia langsung mengenali wajah sang Putri.
Pada saat sang Putri membuka matanya, sang Raja berkata, "Aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku, dan tidak ada kekuatan di bumi yang bisa mengubah hal ini."
Untuk si Putri yang berada dalam perjalanan menuju kerajaannya, sang Raja mengirimkan utusan untuk memohon agar dia kembali saja ke kerajaannya sendiri. "Karena aku telah menemukan istriku, dan siapapun yang telah menemukan kunci lamanya, tidak memerlukan kunci yang baru lagi," demikian pesan yang dibawa oleh utusan sang Raja kepada si Putri dari kerajaan sebelah.
Tidak lama kemudian, pernikahan antara sang Raja dan sang Putri yang dicintainya itu dirayakan dengan meriah dan mewah. Sementara itu, sang Singa kembali menjadi hewan kesayangan sang Raja sebab semua yang telah dikatakannya sesungguhnya adalah benar.
 Sangat menarik bukan kisah cerita dongeng diatas, masih banyak cerita-cerita yang lainya yang tidak kalah serunya hanya di blog cerita ini.

Wanita Pemalas dan Tiga Orang Penenun - Cerita Dongeng

Wanita Pemalas dan Tiga Orang Penenun - Cerita Dongeng - Kali ini adalah sebuah cerita dongeng tentang seorang wanita yang memiliki sifat pemalas dan tiga orang wanita penenun, dimana gadis pemalas tersebut akan dinikahkan dengan putra ratu jika dia sanggup menyelesaikan tenunan sebanyak 3 kamar, bagaimana ceritanya, selamat membaca:

Dahulu kala ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain, dan ibunya tidak pernah bisa membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran dan mulai memukul anak gadisnya dengan keras. Pada saat itu Ratu yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah gadis tersebut karena mendengar gadis itu menangis. Ratu kemudian masuk ke dalam rumah dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu dan mengapa ibunya memukuli anak gadisnya sampai-sampai semua orang yang berada di jalan dapat mendengarkan gadis tersebut menangis.
Ibu gadis tersebut menjadi sangat malu untuk mengakui kemalasan anak gadisnya, sehingga dia berkata,
"Saya tidak bisa menghentikan dia menenun, dia selalu ingin mengerjakannya setiap waktu dan saya terlalu miskin sehingga tidak bisa menyediakan dia rami - bahan untuk ditenun yang cukup."
Kemudian Ratu menjawab,
"Saya sangat senang mendengar suara roda alat pemintal, dan saya merasa senang mendengarkan mereka bersenandung, biarkanlah saya membawa putrimu ke istana, saya mempunyai banyak rami dan bahan tenung, di sana dia dapat memintal dengan hati gembira."
Ibu gadis tersebut sangat senang mendengarkan tawaran itu, dan Ratu pun kemudian membawa gadis tersebut bersamanya. Ketika mereka mencapai istana, Ratu memperlihatkan tiga ruangan yang penuh dengan rami dan bahan tenun yang terbaik yang ada di kerajaannya.
"Sekarang kamu dapat menenun rami ini," Katanya, "dan bila kamu berhasil menyelesaikannya, kamu akan saya nikahkan dengan putra tertua saya; kamu mungkin miskin tapi saya tidak akan memperdulikan hal itu, kain yang kamu buat dari rami ini cukup sebagai emas kawin,"
Gadis itu ketakutan dalam hati, karena dia sama sekali tidak dapat menenun, biarpun dia hidup seratus tahun dan duduk menenun setiap hari selama hidupnya dari pagi sampai malam. Dan ketika dia berada sendirian dia mulai menangis, dan duduk selama tiga hari tanpa menyentuh alat tenun. Pada hari ketiga, Ratu datang, dan ketika dia melihat tidak ada satupun tenunan yang selesai, dia lalu terkejut; tetapi gadis tersebut beralasan bahwa dia belum bisa mulai menenun karena dia masih bersedih akibat perpisahan dengan rumah dan ibunya. Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi ketika Ratu akan beranjak pergi, dia mengatakan "Besok pekerjaan kamu harus dimulai."
Ketika gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam kebingungannya dia cuma keluar dan menatap keluar jendela. Saat itu dilihatnya tiga orang wanita lewat didepannya, dan wanita yang pertama memiliki kaki yang lebar dan rata, yang kedua mempunyai bibir yang tergantung turun sampai ke dagunya, dan yang ketiga memiliki ibu jari tangan yang sangat lebar. Mereka kemudian berhenti di depan jendela, dan mencoba bertanya apa saja yang gadis itu inginkan. Gadis itu menjelaskan apa yang dibutuhkannya, dan mereka berjanji akan membantunya, dan berkata,
"Kamu harus mengundang kami ke pesta pernikahanmu, dan tidak malu karena kehadiran kami, menyebut kami sebagai sanak keluarga dan sepupumu, dan diperbolehkan duduk satu meja dengan kamu; jika kamu berjanji akan memenuhi hal ini, kami akan menyelesaikan tenunan tersebut dalam waktu singkat."
"Saya berjanji sepenuh hati," jawab si gadis; "masuklah dan mulailah sekarang."
Lalu ketiga wanita itu masuk, dan mereka membersihkan sedikit ruangan pada kamar pertama untuk mereka agar mereka dapat duduk dan menempatkan alat tenun mereka.  Wanita yang pertama menarik keluar benang dan mulai menapakkan kakinya ke tuas yang memutar roda alat tenun, wanita yang kedua membasahi benang,  dan wanita yang ketiga memilin dan meratakannya dengan ibu jarinya diatas meja, perlahan-lahan gulungan-gulungan benang yang indah berjatuhan diatas lantai, dan ini menghasilkan tenunan yang sangat indah. Gadis itu menyembunyikan ketiga wanita penenun itu dari pandangan mata sang Ratu sehingga setiap kali Ratu berkunjung, sang Ratu hanya melihat dia sendirian bersama tumpukan tenunan yang sangat indah; dan tidak terhingga pujian-pujian yang diterimanya dari Ratu. Ketika kamar pertama sudah kosong, mereka mulai menenun di kamar kedua, lalu ke kamar ketiga sampai semua rami telah selesai di tenun. Lalu saat ketiga wanita penenun itu akan pergi, mereka berkata pada sang Gadis,
"Jangan lupa dengan apa yang kamu janjikan, dan semuanya akan menjadi lebih baik untuk kamu."
Ketika sang Gadis memperlihatkan pada Ratu ruangan yang telah kosong, dan sejumlah besar tenunan, Ratu langsung mengatur pernikahan gadis itu dengan putranya yang tertua, dan mempelai pria itupun sangat senang karena mendapatkan calon istri yang sangat pandai dan rajin.
"Saya mempunyai tiga orang sepupu," kata Gadis itu, "dan karena mereka sangat baik kepada saya, Saya tidak akan pernah lupa kepada mereka disaat saya mendapatkan keberuntungan; bisakah saya mengundang mereka datang ke pesta, dan meminta mereka duduk satu meja dengan kita?"
Ratu dan putra tertuanya yang akan menjadi calon suami berkata bersamaan,
"Kamu boleh mengundangnya datang, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengundangnya kesini,"
Ketika perjamuan dimulai, ketiga wanita penenun tersebut datang tanpa menyembunyikan keburukan rupa mereka, dan sang Gadis berkata,
"Sepupuku yang baik, selamat datang."
"Oh," kata mempelai pria, "bagaimana kamu bisa mempunyai sanak keluarga yang sangat buruk rupa?"
Kemudian dia menemui wanita penenun yang pertama dan bertanya kepadanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai kaki yang begitu lebar dan rata?"
"Saya selalu menapakkan kaki saya pada alat tenun," katanya.
Ketika dia menemui wanita yang kedua dan bertanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai bibir yang bergantungan sampai ke dagumu?"
"Dengan menjilat benang." katanya,
Dan kemudian dia bertanya kepada wanita yang ketiga,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai ibu jari yang sangat besar dan lebar?"
"Dengan memilin benang," katanya.
Kemudian mempelai pria berkata bahwa semenjak saat itu, sang gadis yang menjadi istrinya ini harus berhenti untuk menenun dan jangan pernah menyentuh alat tenun lagi.
Dan begitulah akhirnya sang gadis lepas dari pekerjaan menenun yang melelahkan.
Baca cerita dongeng lainya ea hanya di blog cerita ini. makasih

Kepompong dan Semut yang Sombong - Cerita Dongeng

Kepompong dan Semut yang Sombong - Cerita Dongeng - Dongeng kali ini akan menceritakan tentang sebuah kisah antara kepompong dan semut yang memiliki sifat sombong , dengan latar tempat di sebuah hutan. yuk kita baca ceritanya....

Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.

Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.


Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. "Hu..huu...betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu.." sedih sang Kepompong meratapi keadaan.


Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata "Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai" kata sang Semut dengan sombongnya.

Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.

"Tolong...tolong....aku terjebak di lumpur hidup..tolong", teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, "Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?" si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.

"Siapa kau?" tanya si Semut galau. "Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina" jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. "Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah". Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Nah, hikmah yang bisa kita tarik dari dongeng diatas adalah, kita harus menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan. Intinya semua ciptaan Tuhan harus kita kasihi dan tidak boleh kita menghina makhluk yang lain. 


Bagus bukan cerita dongeng Kepompong dan Semut yang Sombong diatas, baca cerita lainya hanya di blog cerita ini.