Joko Kendil Melamar Putri Raja - Jawa Timur - Cerita Rakyat Nusantara

Joko Kendil Melamar Putri Raja - Jawa Timur - Cerita Rakyat Nusantara - Siapa sih yang tak kenal dengan cerita dongeng rakyat ini, cerita ini sudah sering di angkat di layar-layar televisi, ceritanya menarik dan dapat memberi pesan moral, selamat membaca:

Karena bentuk tubuhnya yang menyerupai kendil1(guci, periuk) seorang anak dijuluki Joko Kendil oleh penduduk di daerah sekitar ia tinggal. ia sering diejek dan dijauhi teman-temannya karena bentuk tubuhnya. Namun ia tak pernah bersedih akan hal itu. Dia tetap rajin bekerja membantu ibunya. Banyak yang sering memandangnya dengan aneh, tapi ia tetap percaya diri saat mengangkat barang-barang belanjaannya dari pasar.
Suatu hari, di kampung tempat tinggal Joko Kendil, datang sebuah keluarga baru. Keluarga sederhana yang mempunyai seorang anak lelaki kurus dan botak. Karena tak ada sehelai pun rambut tumbuh di kepalanya, ia dinamai si Gundul.
Seperti yang telah terjadi pada Joko Kendil, si Gundul juga sering diejek. Si Gundul sering muram dan sedih karena ejekan teman-temannya. Joko Kendil terharu akan keadaan si Gundul, maka ia pun menghibur si Gundul. “Jangan sedih. Biarkan saja mereka menghina kita. Kita memang punya kekurangan. Tapi yang penting, kita tak menyakiti orang lain,” kata Joko Kendil kepada si Gundul.

Sejak itu Joko Kendil sering bermain laying-layang bersama si Gundul. Si Gundul sangat jago bermain laying-layang. Belum ada anak kampung yang bisa bermain laying-layang sehebat itu. Joko Kendil senang bermain dengannya. Selain itu, si Gundul juga jago memanah, dia mengajarkan Joko Kendil membidikkan anak panahnya ke sasaran yang jauh dengan tepat. Persahabatan mereka makin erat, meskioun anak-anak kampung masih saja suka mengejek mereka.


Pada suatu hari, Joko Kendil mendengar cerita di kampungnya bahwa seorang raja mempunyai tiga orang putri yang cantik. Joko Kendil tertarik untuk melamar putri sang raja. Mendengar Joko Kendil hendak melamar putri raja, orang-orang kampung mencemoohnya karena tak mungkin lamarannya diterima oleh seorang pemuda dengan bentuk tubuh seperti dia.


Hanya si Gundul satu-satunya yang memberi semangat kepada Joko Gendil. “Aku percaya kepadamu, Joko Kendil. Engkau pasti punya alasan kuat untuk melamar putri raja. Kebaikan hatimu, ketulusan dan kejujuranmu jauh lebih berharga. Aku berharap sang putri melihat semua itu dalam dirimu.” Joko kendil terharu mendengarnya. Dipeluknya sahabatnya itu. Sebagai bekal perjalanan, si Gundul memberikan busur kesayangannya kepada Joko Kendil untuk menjaga diri.
Berangkatlah Joko Kendil dan ibunya ke istana. Dan disampaikannya di sana, niatnya untuk mempersunting putri raja. Putri sulung dan putri kedua langsung menolaknya begitu mereka melihat bentuk tubuh Joko Kendil. Namun, sang puti bungsu menerima pinangannya. Menikahlah Joko Kendil dengan putri bungsu sang raja dengan pesta yang sangat meriah.


Tak berapa lama kemudian, di istana diadakan adu ketangkasan memanah dan dimenangkan oleh seorang ksatria tampan. Putri sulung dan putri kedua tertarik kepada ksatria yang tak dikenal itu. Mereka mengejek putri bungsu yang tak mungkin mendapatka sang ksatria tampan tersebut karena telah menikah dengan Joko Kendil. Karena ejekan saudaranya, putri bungsu langsung menangis dan berlari ke kamarnya. Sesampainya di sana, dia menemukan sebuah guci yang kemudian dibanting hingga pecah berkeping-keping. Tak lama kemudian, muncullah ksatria tampan yang tadi memenangkan adu ketangkasan. ia sedang mencari-cari gucinya.
“Siapa engkau? Mengapa engkau bisa berada di sini?”
“Sesungguhnya, akulah suamimu, Putri. Aku Joko Kendil. Kini aku tak bisa berubah menjadi Joko Kendil yang dulu karena gucinya sudah pecah. Jadi, apakah engkau tetap mau menjadi istriku?”
Putri bungsu menangis bahagia. Tak disangka, suaminya adalah seorang ksatria tampan. Mereka berdua segera melaporkan hal ini ke baginda raja yang dengan sukacita segera mengumumkannya ke seluruh kerajaan.


Walaupun telah berubah wujud, Joko Kendil tetap mengingat sahabatnya, si Gundul, yang telah memberinya semangat untuk melamar sang putri. Di jemputlah si Gundul di kampungnya. Awalnya si Gundul menolaknya karena sudah tak mengenal lagi rupanya, namun setelah ditunjukkan busur yang dulu pernah ia berikan kepada Joko Kendil, barulah ia percaya.


“Joko Kendil, aku mau diajak ke istana. Tapi apakah engkau tidak malu dengan keadaanku? Engkau bukanlah Joko Kendil yang dulu lagi, melainkan seorang ksatria tampan. Sedangkan aku tetap saja si Gundul yang kurus, botak, dan buruk rupa.”


“Tentu saja aku tidak malu terhadap keadaanmu. Bukankah engkau tetap sahabatku yang terbaik? Keluhuran budimu jauh lebih bernilai daripada bentuk tubuhmu,” jawab Joko Kendil.
Sejak itu, Joko Kendil dan si Gundul tinggal di istana. Si Gundul diangkat menjadi pelatih ketangkasan memanah prajurit kerajaan. Mereka tetap bersahabat, hidup rukun, saling menghargai dan sang menyayangi satu sama lain.

Dikutip dari :
S. Tary, Retno W, 33 Cerita Rakyat Menakjubkan, Mizan Media Utama, 2009


Pesan Moral :
Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tak perlu kecil hati akan kekurangan karena setelah kesulitan kita pasti akan diberi jalan kemudahan oleh Tuhan.

1. kendil (bhs Jawa) = guci, periuk, tempat menyimpan nasi dari tanah liat, sekarang masih dapat dilihat pada tempat penjual gudeg asli jogja untuk menyimpan lauknya.

Baca cerita nusantara lainya di blog cerita ini, terimakasih

Kisah Lala Sri Menanti, Ai Mangkung - Sumbawa NTB - Cerita Rakyat Nusantara

Kisah Lala Sri Menanti, Ai Mangkung - Sumbawa NTB - Cerita Rakyat Nusantara - Haloo... Tidak lengkap rasanya kalau tidak mempunyai cerita legenda tempat kelahiran orangtuaku, makanya saya kaliini coba bagi cerita turun-temurun di daerahku Lombok dan NTB. Salah satu yang akan saya bagi ke teman-teman semua adalah Legenda AI MANGKUNG.

Ai Mangkung adalah  nama air sungai yang terdapat di daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, jika air Ai Mangkung tersebut diminum oleh penduduk Desa Tarusa, selain terasa sepat, juga dapat menimbulkan penyakit.
Dahulu kala, di sebuah bukit dekat Olat Pamanto Asu`, Sumbawa, terdapat sebuah desa yang tenteram bernama Jompang. Desa tersebut dipimpin oleh seorang datu atau kepala desa yang bernama Datu Palowe`. Ia mempunyai dua orang anak, yaitu seorang anak laki-laki bernama Lalu Wanru, dan seorang anak perempuan bernama Lala Sri Menanti. Keduanya telah beranjak dewasa. Lala Sri Menanti seorang gadis yang cantik nan rupawan. Karena kecantikannya, ia menjadi anak kesayangan Datu Palowe`. Segala keinginannya selalu dipenuhi oleh sang Ayah. Mulai dari pakaian yang bagus-bagus hingga berbagai perhiasan yang indah-indah. Tak heran, jika anting-anting, kalung, gelang tangan, hingga gelang kaki senantiasa menghiasi seluruh tubuhnya. Pada suatu hari, Lala Sri Menanti ingin sekali makan udang. Keinginan itu pun ia sampaikan kepada ayahnya. Tanpa berpikir panjang, sang Ayah pun bersedia memenuhi keinginan anak kesayangannya itu.

“Baiklah, Anakku! Keinginanmu akan segera terpenuhi,” kata ayahnya seraya memerintahkan
Amaq (Bapak) Bangkel dan Inaq (Ibu) Bangkel pergi ke sungai untuk menempas (mencari ikan). Mendengar perintah itu, kedua suruhan Datu Palowe` tersebut segera bersiap-siap untuk berangkat ke sungai. Ketika mereka sedang sibuk menyiapkan peralatan yang akan mereka bawa, Lala Sri Menanti mengajukan satu permintaan lagi kepada ayahnya. “Ayah! Bolehkah Lala ikut bersama mereka ke sungai?  Lala ingin melihat mereka menangkap udang ” pinta Lala Sri Menanti.

Sang Ayah pun memenuhi permintaannya. Akhirnya, Lala Sri Menanti bersama Amaq Bangkel dan Inaq Bangkel, serta beberapa orang lainnya berangkat ke sungai Olat Pamanto Asu`. Setibanya di tepi sungai, Lala duduk di atas sebuah batu besar sambil menyaksikan orang-orang menempas dan menunggu udang hasil tangkapan mereka. Pada saat itu, datang pula empat orang pemuda dari desa tetangga, Desa Tarusa, hendak menebang bambu yang banyak tumbuh di tepi Sungai Olat Pamanto Asu`. Rupanya, kedatangan
mereka tidak diketahui oleh Lala Sri Menanti dan rombongannya. Salah seorang pemuda yang melihat Lala duduk seorang diri di tepi sungai tersentak kaget.

“Hai, lihat! Siapa gadis yang duduk di atas batu itu?” seru salah seorang pemuda.
“Bukankah gadis itu putri Datu Palowe` dari Desa Jompang?”sahut seorang pemuda yang lain.
“Kamu benar, kawan!” sambung pemuda yang lainnya seraya memuji, 
”Aduhai, cantiknya gadis itu!” Keempat pemuda tersebut terpesona melihat kecantikan Lala Sri Menanti. Tapi, rupanya mereka lebih tertarik pada perhiasan yang dikenakan gadis cantik itu. Meskipun mengetahui bahwa Lala Sri Menanti putri Datu Palewo`, mereka tetap berniat merampas perhiasannya.
“Apa yang harus kita lakukan agar tak seorang pun yang mengetahui perbuatan kita?” tanya salah seorang dari pemuda tersebut dengan bingung. Setelah berunding, keempat pemuda tersebut menemukan sebuah cara, yaitu akan menyergap Lala Sri Menanti dari belakang secara diam-diam. Begitu para pencari udang tersebut semakin jauh meninggalkan Lala di tepi sungai, mereka pun mengendap-endap dari balik semak belukar, lalu menyergap tubuh Lala. Gadis cantik itu pun tersentak kaget. Ketika ia hendak berteriak meminta tolong, salah seorang di antara mereka menyumbat mulutnya dengan sehelai kain. Sementara tiga pemuda lainnya segera melucuti satu per satu perhiasan yang melekat pada tubuhnnya. 
Gadis malang itu meronta-meronta berusaha untuk melepaskan diri. Namun apa daya, ia tidak mampu mengimbangi kekuatan mereka. Ia hanya bisa pasrah seluruh perhiasannya dirampas oleh keempat pemuda tersebut. Usai merampas seluruh perhiasan Lala Sri Menanti, salah seorang di antara mereka yang bernama Ua Nyawa mencabut parang yang terselip dipinggangnya, lalu memotong lengan kanan Lala. Hanya sekali tebasan, lengan Lala pun terputus. Dalam waktu singkat, gadis cantik yang malang itu langsung kehabisan darah dan akhirnya meninggal dunia di tepi sungai itu. Melihat putri Datu Palowe` tidak bernyawa lagi, keempat pemuda tersebut segera meninggalkan tempat itu dan membawa seluruh perhiasan hasil rampasan mereka ke Desa Tarusa. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, Ua Nyawa membuang potongan lengan Lala Sri Menanti ke sungai.

Sementara itu, Amaq Bangkel dan Inaq Bangkel dan teman-temannya tidak mengetahui kejadian mengerikan yang menimpa Lala Sri Menanti, karena asyik mencari udang. Begitu selesai menangkap udang, mereka kembali ke tepi sungai untuk menemui Lala Sri Menanti. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati anak kesayangan pemimpin mereka dalam keadaan tewas mengenaskan. Mereka sangat menyesal karena tidak mampu menjaga keselamatan Lala Sri Menanti. Mereka kemudian membawa pulang jasad Lala Sri Menanti ke desa. Datu Palowe` pun tak sanggup menahan air mata atas musibah yang menimpa anaknya.
Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar bahwa orang yang telah menghabisi nyawa Lala Sri Menanti adalah empat orang pemuda dari Desa Tasura. Mengetahui hal tersebut, Datu Malewo` melarang keempat pemuda tersebut meminum air Sungai Olat Pamanto Asu`. Jika mereka meminumnya, selain terasa sepat air itu juga dapat menimbulkan penyakit. Sejak itu, para penduduk Desa Tarusa pun tidak berani meminum air sungai itu, karena takut terkena penyakit.

Nah.. itulah cerita Ai Mangkung dari daerah Sumbawa, Nusantara Tenggara Barat. Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, tangan Lala Sri Menanti yang dibuang ke sungai menjelma menjadi seekor ikan tuna buntung dan mulutnya berwana merah delima seperti bibir seorang gadis. Mereka juga mempercayai bahwa bukit yang berada di dekat Sungai Olat Pamanto Asu` merupakan bekas tempat tinggal Datu Palewo`. Di bagian atas bukit tersebut terdapat beberapa batu yang berbentuk dipan berukir, peti, dan kursi yang dipercaya sebagai peninggalan Datu Palowe`. Dari sini dapat sebuah pelajaran bahwa jika kita hendak bepergian hendaknya tidak mengenakan pakaian atau pun perhiasan yang mencolok, sehingga tidak mengundang perhatian orang lain untuk berbuat jahat kepada kita.

Cerita Dalam Bahasa Sumbawa :
Ada sopo cerita, pang olat pparak ke Olat Pemanto Asu, sumbawa, ada sopo desa de tentram besingin Jompang. desa nan ya pimpin leng sopo Datu atau kepala desa de besingin Datu Palowe, ada anak na dua yanansi sopo selaki besingin Lalu Wanru, ke sopo anak swai na bsingin Lala sri menanti, sedua na kam mo taruna dedara. Lala sri menanti anak dedara de paling gra ke balong ate. karna gra nya de dadi anak kesayangan Datu Palowe. srea de ya sate pasti ya senapat leng bapak na ka kaleng pakean de balong-balong sampe macam-macam perhiasan de gra-gra. nom heran lamen anting, tekan ima, tekan ne ke kalung roa menghiasi srea prana na.

       pang sopo ano, Lala sri menanti sate kakan udang, rasate nan ya senapat ko bapak na, engka le pikir si bapak ta siap ya senapat rasate si anak de ya sayang.
     "ao anak e,,! rasate mu nan ya akakn ku senapat" beleng si bapak, sambil ya suruh amaq bengkel ke inaq bengkel alo ko berang umen merorang.
        Ya menong pesuruh nan, sedua anak buah Datu palowe lema ya siap-siap umen ya berangkat ko berang. uwa2 sibuk ya siapkan peralatan de ya bawa, Lala sri menanti beleng ke bapak na.
       "bapak ! bau ke Lala lalo brema ke tau nn ko brang ke..?? Lala sate gita tau nan bau udang" penkeling Lala sri menanti.
        si Bapak pun ya penuhi pengkeling anak na, akhir na Lala sri menanti berema ke Amaq Bengkel  ke Inaq Bengkel ke beberapa tau len brangkat ko berang Olat Pemanto Asu, kam dapat pang ndeng brang Lala tokal pang bao batu rango sambil ya gita tau-tau nan merorang ke ya tari udang maong merorang nan.
      pada saat nan datang mo empat tau taruna kaleng desa tetangga, Desa Tarusa ya sate rempong air de peno tumung pang ndeng Olat Pemanto Asu. engka ya to, kenatang tau nan lleng Lala sri menanti ke rombongan na, salah seorang tau taruna nan gita Lala tokal mesa-mesa na pang ndeng berang. kemelas mo.
      "heh,!! gita dean e, sai tau swai de tokal pang bao batu nan ?" beleng salah sopo tau taruna nan.
      "yong si tau swai nan anak dedara Datu Palowe, kleng desa Jompang ?" beleng salah sopo pemuda de len na.
       "ya si, geng ! samung tau taruna de len na, sambil ya puji, "waina aku, gra tau swai nan peh..!"
       keempat tau taruna nan ksantil ya gita gra Lala sri menanti, tapi de lebih bahaya na tau taruna nan lebih tertarik lako perhiasan de ya kenang leng Dedara gra nan, walaupun ya to Lala sri menanti anak dedara Datu Palowe, tau nan tetap ya sate ete perhiasan nan.
       "Apa de harus tu pina ma nda tau to apa de tu boat ta ?" peketoan salah sopo tau taruna nan de gingang.
       Kamo berunding, keempat tau taruna nan, ya tangka cara, yanansi ya bau Lala sri menanti kaleng bungkak tedu-tedu. lamen kamo semakin do tau bau bau udang nan ya bilen Lala pang endeng berang. tau nan ke tedu-tedu kleng dalam rupat setelah nan ya bau Lala, dedara gra nan kemelas. sate keserak eneng tulung tapi salah sopo antara tau taruna nan ya setama kre pang dalam boa Lala, sementara telu tau taruna len nha lema ya ete perhiasan ade ada pang perana Lala. ke nanta tde dedara nan gerang sate berari, tapi apa bole boat, nya engka mampu ya imbangi kekuatan tau taruna nan. Lala cuma pasrah srea perhiasan na ya ete leng tau nan.
       Jira ya ete srea perhiasan Lala, salah sopo tau nan de bsingin Ua Nyawa ya ete berang pang ndeng pinggang jira nan ya lolok lengan kanan Lala, hanya ke sopo pelemat, lengan si Lala rotas, pang waktu nan tde dedara nan langsung boe geti ke ampo mate pang ndeng berang nan.
       Ya gita anak dedara datu palowe kamo mate, keempat tau taruna nan lema ya bilen pang nan ya bawa srea perhiasan maong nyoro ko desa tarusa, tapi snopoka bilen pang nan, ya bolang potongan lengan Lala ko dalam berang leng Ua Nyawa.

         Sementara nan Amaq bengkel ke Inaq bengkel srea ke denggan-dengan nha engka to tentang hal de merang de menimpa Lala sri menanti, karna asiek bia udang, kam jira bau udang, tau nan remalek ko ndeng berang ya gita si Lala. kemelas srea tau nan ketika ya gita anak dedara kesayangan pimpinan na mate ke cara de merang. tau nan menyesal karena engka bau jaga Lala, tau nan pun ya bawa mole mayet Lala ko desa.Datu palowe engka bau tahan ai mata na atas musibah ade menimpa anak dedara na nan.

        Bebarapa ano kemudian, ya menonhg mo rungan bahwa tau de ka semate Lala nan yanansi empat tau taruna kleng desa tarusa, ya to hal nan Datu Palowe ya larang keempat tau taruna nan ya inum ai berang OLat Pemanto Asu, lamen ya inum, se'len berasa pakat, ai nan ampo dapat menyebabkan penyaket. pada saat nan moh, tau desa tarusa no tengan ya inum ai berang nan karena no tengan kena penyaket. 

Baca cerita rakyat nusantara yang lainya, yang pastinya menarik untuk dibaca.

Putri Mandalika dan Asal Usul Upacara Bau Nyale Kabupaten Lombok Tengah - NTB - Cerita Rakyat Nusantara

Putri Mandalika dan Asal Usul Upacara Bau Nyale Kabupaten Lombok Tengah - NTB - Cerita Rakyat Nusantara, Salah satu cerita rakyat nusantara yang sangat terkenal dan tidak kalah dengan cerita-cerita seperti sinderela, romeo juliet, dan lain sebagainya, kita sebagai anak bangsa juga harus turut melestarikanya, mari baca kisahnya:

Pantai Kuta.... mendenger nama pantai kuta, kita pasti tahunya adalah pantai kuta yang terletak di Bali, sebenarnya di Pulau Lombok juga ada pantai kuta, tempatnya indah dan hampir sama persis dengan pantai kuta kira-kira 15 tahun lalu, bersih, hening (tidak terlalu ramai/ bising) dan asri. Letaknya Pantai Kuta di Pulau Lombok ada di sekitar Desa Pujut Kabupaten Lombok Tengah adalah salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah kawasan wisata pantai yang sangat menarik dan ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kawasan tersebut adalah Pantai Seger Kuta, terletak di bagian Selatan pulau Lombok, kira-kira 65 kilometer dari kota Mataram. Keindahan pantai ini membuat para wisatawan menjadi kagum menyaksikan panorama alamnya. Airnya yang jernih dan tenang menjadikan pantai ini sangat ideal untuk berenang.

PANTAI SEGER KUTA, LOMBOK TENGAH - NTB
Selain keindahan alamnya, Pantai Seger Kuta juga memiliki daya tarik lain yang tidak kalah eksotisnya bagi para wisatawan. Setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret, ditempat ini diselenggarakan sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan Bau Nyale. Kata Bau berasal dari bahasa Sasak yang berarti Menangkap, sedangkan kata Nyale berarti sejenis Cacing Laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut. Pesta Bau Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak, suku asli pulau Lombok. 

Keberadaan pesta Bau Nyale ini berkaitan erat dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian Selatan, tepatnya pada Masyarakat Pujut, sebuah kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Tengah. Cerita tersebut mengisahkan tentang seorang putri yang sangat arif dan bijaksana, namanya Putri Mandalika. dan inilah ceritanya:


Dahulu kala di pantai Selatan Pulau Lombok, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Tunjung Bitu  (Dalam tulisan pada daun lontar dengan literatur Jejawen, nama kerajaan itu tertulis Kerajaan Tonjeng Beru ) Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang Raja yang bernama Raja Tonjang Beru dengan permaisurinya, Dewi Seranting. Tonjang Beru adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya hidup makmur, aman dan sentosa. Mereka sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana itu. Raja Tonjang Beru memiliki seorang Putri yang cantik jelita, cerdas dan bijaksana, namanya Putri Mandalika. Di samping cantik dan cerdas, Putri Mandalika juga terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya sangat lembut. Seluruh rakyat negeri sangat sayang terhadap sang Putri.

Kecantikan dan keelokan perangai Putri Mandalika sudah tersohor ke berbagai negeri, bahkan sampai ke negeri seberang. Para pangeran dari berbagai kerajaan juga telah mendengar berita tersebut. Setiap pangeran yang melihat kecantikan dan keanggunan sang Putri menjadi mabuk kepayang. Seakan telah terjadwalkan, para pangeran tersebut datang secara bergantian untuk melamar sang Putri. Suatu keanehan pada diri Putri Mandalika. Setiap pangeran yang datang melamarnya, tak satu pun yang ia tolak. Namun, para pangeran tersebut tidak menerima jika sang Putri diperistri oleh banyak pangeran. Maka mereka pun bersepakat untuk mengadu keberuntungan melalui peperangan. Siapa yang menang dalam peperangan itu, maka dialah yang berhak memperistri sang Putri.

Suatu hari, berita tentang akan terjadinya peperangan antara beberapa kerajaan sampai pula ke telinga Raja Tonjang Beru. Sang Raja segera memanggil putrinya untuk membicarakan masalah tersebut.
“Wahai, Putriku! Ayahanda mendengar bahwa di negeri ini akan terjadi malapetaka besar. Seluruh pangeran yang pernah datang melamarmu akan mengadakan perang. Mereka bersepakat, siapa yang menang dalam perang itu, dialah yang akan menjadi suamimu,” kata sang Raja kepada putrinya.
 “Putri sudah mendengar berita itu, Ayahanda,” jawab sang Putri dengan tenang.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan agar pertumpahan darah itu tidak terjadi?” tanya sang Raja khawatir. “Maafkan Putri, Ayahanda! Ini semua salah Putri, karena telah menerima semua lamaran mereka. Jika
Ayahanda berkenan, izinkanlah Putri yang menyelesaikan masalah ini,” pinta sang Putri.
“Baiklah, Putriku!” jawab sang Raja penuh keyakinan.

Setelah berpikir sehari-semalam, sang Putri pun menemukan jalan keluarnya. Pada awalnya, sang Putri berniat memilih salah satu dari puluhan pangeran yang melamarnya sebagai suaminya. Namun, niatnya itu ia batalkan setelah memikirkan resikonya. Jika ia memilih satu di antara beberapa pangeran sebagai suaminya, tentu pangeran yang lainnya merasa iri. Hal ini tentu akan menimbulkan pertumpahan darah. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi sang Putri. Ia pun memutuskan untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Tekadnya tersebut sudah tidak bisa ditawar lagi. Ia sudah siap merelakan jiwanya demi menghindari terjadinya peperangan yang akan memakan korban yang lebih banyak.

Namun, sebelum melaksanakan niatnya, sang Putri harus melakukan semedi terlebih dahulu. Dalam semedinya, ia mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20, bulan 10 penanggalan Sasak), bertempat di Pantai Seger Kuta, Lombok Tengah. Semua pangeran yang diundang harus disertai oleh seluruh rakyatnya masing-masing. Mereka harus datang ke tempat itu sebelum matahari memancarkan sinarnya di ufuk Timur.   

Hari yang telah ditentukan tiba. Tampaklah pemandangan yang sangat menarik. Para undangan dari berbagai negeri berbondong-bondong datang ke pantai Seger Kuta. Orang yang datang ribuan jumlahnya. Pantai Seger Kuta bak gula yang dikerumuni semut. Bahkan, banyak undangan yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang Putri tiba. Mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek datang memenuhi undangan sang Putri di tempat itu. Rupanya mereka sudah tidak sabaran ingin menyaksikan bagaimana sang Putri yang cantik jelita itu menentukan pilihannya.

Pantai Seger Kuta sudah penuh sesak oleh para undangan. Tak berapa lama, sang Putri yang sudah tersohor kecantikannya itu pun tiba di tempat dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Seluruh undangan serentak memberi hormat kepada sang Putri yang didampingi oleh Ayahanda dan Ibundanya serta sejumlah pengawal kerajaan. Suasana yang tadinya hiruk pikuk berubah menjadi tenang. Seluruh pasang mata yang hadir tercengang kecantikan wajah sang Putri. Tubuhnya yang dibungkus oleh gaun sutra yang sangat halus itu, menambah keanggunan dan keelokan sang Putri. Para pangeran sudah tidak sabar lagi menanti keputusan dari sang Putri. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan dipilih sang Putri. Suasana semakin tegang. Jantung para pangeran berdetak kencang seakan-akan mau copot.  Tidak berapa lama, sang Putri melangkah beberapa kali, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Di tempat ia berdiri, Putri Mandalika kemudian menebarkan pandangannya ke seluruh undangan yang jumlahnya ribuan itu. Rasa penasaran para hadirin semakin memuncak. Mereka semakin tidak sabaran ingin mendengarkan kata demi kata keluar dari mulut sang Putri yang menyebutkan salah satu nama dari puluhan pangeran yang ada di tempat itu sebagai pilihan hatinya.

Setelah pandangannya merata ke arah para undangan yang hadir, sang Putri pun berbicara untuk mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru,
“......Wahai, Ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai !        Setelah aku pikirkan dengan matang, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua.    Aku tidak dapat memilih satu di antara banyak pangeran. Diriku telah ditakdirkan menjadi Nyale yang dapat kalian         nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut. .......” 

Mendengar keputusan sang Putri tersebut, para hadirin tersentak kaget, termasuk Ayahanda dan Ibundanya, karena sang Putri tidak pernah memberitahukan keputusannya itu kepada kedua orang tuanya. Belum sempat Ayahanda dan Ibundanya berkata-kata, tiba-tiba sang Putri menceburkan diri ke dalam laut dan langsung ditelan gelombang. Bersamaan dengan itu pula, angin bertiup kencang, kilat dan petir pun menggelegar. Suasana di pantai itu menjadi kacau-balau. Suara teriakan terdengar di mana-mana. Sesekali terdengar suara pekikan minta tolong. Namun, suasana itu berlangsung tidak lama.

Sesaat kemudian, suasana kembali tenang. Para undangan segera mencari sang Putri di tempat di mana ia menceburkan diri. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang Putri di tempat itu. Ia menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Tak lama kemudian, tiba-tiba bermunculan binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak dari dasar laut. Binatang yang berbentuk cacing laut itu memiliki warna yang sangat indah, perpaduan warna putih, hitam, hijau, kuning dan coklat. Binatang itu disebut dengan Nyale. Seluruh masyarakat yang menyaksiksan peristiwa itu meyakini bahwa Nyale tersebut adalah jelmaan Putri Mandalika. Sesuai pesan sang Putri, mereka pun beramai-ramai dan berlomba-lomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai tanda cinta kasih kepada sang Putri.

Cerita rakyat di atas merupakan cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai moral yang sangat menonjol dalam cerita di atas adalah sifat rela berkorban. Sifat ini tercermin pada sifat Putri Mandalika ketika ia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menghindari terjadinya peperangan antara beberapa kerajaan yang dapat mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Ia lebih memilih mengorbankan jiwanya daripada mengorbankan jiwa orang banyak.
Selain itu, cerita rakyat di atas juga merupakan cerita yang telah melegenda di kalangan masyarakat Lombok Tengah yang menceritakan tentang asal-mula upacara atau pesta Bau Nyale (menangkap cacing), terutama di kalangan masyarakat suku-bangsa Sasak. Hingga kini, masyarakat setempat menyelenggarakan upacara Bau Nyale setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret.


Upacara Bau Nyale ini telah menjadi salah satu daya tarik yang banyak ditunggu-tunggu oleh para wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah menjadikan upacara Bau Nyale ini sebagai aset budaya yang penyelenggaraannya telah menjadi koor event kegiatan budaya nasional.

Tradisi upacara Bau Nyale yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku Sasak ini sudah ada sebelum abad ke-16 Masehi. Pada saat acara Bau Nyale akan dilangsungkan, sejak sore hari masyarakat setempat    beramai-ramai menangkap Nyale si sepanjang pesisir Selatan Pulau Lombok, terutama di Pantai Seger Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sejak berkembangnya pariwisata, khususnya wisata pantai di Lombok, upacara Bau Nyale selalu dirangkaikan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan tidak ketinggalan pula pementasan drama kolosal Putri Mandalika. Upacara Bau Nyale tersebut biasanya dihadiri oleh para pejabat daerah setempat hingga Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan bahkan tidak sedikit yang datang dari mancanegara.

Bau Nyale sudah menjadi tradisi masyarakat setempat yang sulit untuk ditinggalkan, sebab mereka meyakini bahwa upacara ini memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat (bahaya) bagi orang yang meremehkannya.
Menurut keyakinan masyarakat Sasak, NYALE atau dalam bahasa latin disebut ANNELIDA (Annelida adalah cacing gelang dengan tubuh yang terdiri atas segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem peredaran darah tertutup) LAUT yang sering juga disebut CACING PALOLO (Eunice Fucata) ini dapat membawa kesejahteraan dan keselamatan, khususnya untuk kesuburan tanah pertanian agar dapat menghasilkan panen yang memuaskan. Nyale yang telah mereka tangkap di pantai, biasanya mereka taburkan ke sawah untuk kesuburan padi. Selain itu, Nyale tersebut mereka gunakan untuk berbagai keperluan seperti santapan (Emping Nyale), lauk-pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Secara ilmiah, cacing Nyale yang pernah diteliti mengandung protein hewani yang sangat tinggi. Di samping itu, Dr. dr. Soewignyo Soemohardjo dari Rumah Sakit Biomedika Kota Mataram dalam penelitiannya menemukan bahwa cacing Nyale dapat mengeluarkan suatu zat yang sudah terbukti mampu membunuh kuman-kuman
Secara sosial-budaya, berdasarkan sebuah survey di kalangan petani Lombok Tengah, bahwa 70,6 persen responden yang membuang daun bekas pembungkus Nyale (daun pembungkus pepes Nyale) ke sawah dapat menambah kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian penduduk setempat. Di samping itu, masyarakat setempat juga meyakini bahwa apabila banyak Nyale yang keluar, hal itu menandakan pertanian penduduk akan berhasil. Namun yang terpenting dalam kegiatan Bau Nyale ini adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat di Lombok Tengah yang terus mereka pertahankan, di samping melestarikan nilai-nilai tradisional dan budaya daerah.
= = =  S E L E S A I = = =
Perbanyak pengetahuan nusantara dengan membaca sejarah dan cerita-cerita rakyat nusantara kita.

Aku Mandul dan Istriku Selingkuh - Cerita Dewasa

Aku Mandul dan Istriku Selingkuh - Cerita Dewasa - Banyak sekali cerita yang dapat kita ambil manfaat dan hikmahnya, banyak cerita pula yang mengajarkan kita untuk lebih pintar dan cerdas dalam menghadapi sebuah masalah. namun banyak pula cerita dimana tokoh baiknya hanya diam dan jika kita dalam posisi tersebut akan berontak dan marah, seperti cerita yang satu ini:

Aku menikah dengan perempuan yang sangat aku cintai, tanpa aku sadari pernikahan itu sudah berjalan 3 tahun, tanpa ada tanda-tanda kehamilan dari dia..

Diam-diam aku pergi ke dokter tanpa memberi tahu istriku, untuk mengecek kesuburanku..
Aku begitu terkejut saat dokter mengatakan aku mandul.
Bagiakan langit runtuh saat itu ku rasa..
Dengan pikiran yang berkecamuk, aku pun beranjak pulang,walau hari itu saat nya jam kantorku masih berjalan,
Tidak ada semangat untuk masuk kerja,, yang aku inginkan segera pulang dan menemui istriku di rumah dan mengatakan yang sebenarnya.

Tapi
Saat kaki ku menginjakan di depan pintu, aku dengar suara canda tawa dengan seorang laki-laki di dalam rumah, aku hafal swara itu,
Dia adalah kakak kandungku,g ak habis pikir kenapa dia siang-siang datang ke rumahku, padahal jelas2 dia tahu aku masih bekerja jam saat2 sepert Ini.
Ku tenangkan hatiku. setelah menghela nafas panjang ku beranikan masuk ke rumahku..
Ku lihat kakak ku hanya menggunakan celana panjang, dan duduk di sova, tampa menggunakan kaos,
Padahal dia tahu ada istriku seorang di rumah,
Saat aku menyapa kakak ku..ku lihat istriku keluar dari dapur membawa semangkok mie, dengan rambut yang masih basah kelihatan dia barusan mandi..
Ku tepis, perasaan itu, aku katakan dalam hati, mungkin kebetulan saja...
Setelah berbincang2 dengan kakak ku.. akhirnya dia pun pamit pulang setelah di telepon istri dan anaknya..

Ku lihat senyuman manis itu di tujukan pada istriku..
Walaupun sakit hatiku, tapi aku mencoba untuk menghibur diri.

Saat malam hendak tidur
Tiba2 Istriku memeluk ku, dan mengatakan sesuatu yang sempat membuat jantungku berhenti sejenak saat istriku mengatakan terlambat bulan 2,5 bulan. aku bingung, ingin rasanya aku menampar dan mengatakan pada dia bagiamana dia bisa hamil, sedangkan aku dalam keadaan mandul..
Tapi lagi2 perasaan kecewa itu aku tahan,
Aku simpan rapat2 apa yang terjadi pada diriku,
Biar saja aku rawat bayi itu,bagaimanapun juga dia keponakanku.Dan biar tetangga dan dan teman2ku mengira kalau aku juga lelaki yang sehat,

Genap 6 bulan kehamilan istriku,kabar duka itu datang, kakak ku meninggal karena kecelakaan..
Dengan kejadian itu, aku pun bertekad membahagiakan bayi yang di kandung istriku, bagaimanappun juga dia adalah anak dari kakak ku..

Setelah kelahiran bayi perempuan itu, hidupku begitu bahagia, semua aku tepis tak pernah aku ingat2 lagi apa yang istriku lakukan padaku.
Kini ada bidadari dalam hidupku walaupun bukan darah dagingku.
Dia mirip banget sama kakak ku,r ambut dan hidungnya..
Jadi tanpa rasa malu aku mengakui anaku karena jika di tanya orang,,,ya nieh anaku mirip sama pak de nya..
Semua pun percaya kalau dia anaku.

Kini bidadari kecilku sudah berumur 4 tahun..
Tiba2 di tengah malam itu kata2 itu muncul dan terucap lagi dari istriku...

"Mas aku hamil, lagi udah terlambat 1,5 bulan, dengan tanpa dosa di raut wajahnya dia memeluku seakan akan dia berharap aku bahagia mendengat hal itu,bagaimana mungkin dia hamil lagi dengan siapa lagi dia hamil YA ALLAH....
Aku pun bingung, aku periksa sekali lagi ke dokter, tapi benar2 aku mandul dan aku berganti dokterpun mereka tetap mengatakan aku mandul..
Kalau dulu aku tahu bayi siapa yang dia lahirkan.
Tapi sekarang aku betul2 tidak tahu, siapa ayah dari bayi di dalam perut istriku itu..

====Cerita Selesai====